Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Melalui Jegog Spirit Festival (JSF) 2025, Gaungkan Identitas Budaya Jembrana ke Panggung Nasional, Diikuti 93 Sekaa Jegog

Muhammad Basir • Minggu, 21 Desember 2025 | 20:58 WIB

 

Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan didampingi Wakil Bupati IGN Patriana Krisna, saat pembukaan JSF 2025.
Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan didampingi Wakil Bupati IGN Patriana Krisna, saat pembukaan JSF 2025.

NEGARA, radarbali.jawapos.com – Denting bambu khas Jegog kembali menggema dari barat Pulau Dewata.

Kabupaten Jembrana bersiap menggelar Jegog Spirit Festival (JSF) 2025) bertema The Sound of JFest, yang akan berlangsung selama tiga hari, 19 - 21 Desember 2025, di kawasan Anjungan Cerdas Rambut Siwi.

Festival yang diikuti 93 sekaa jegog ini dirancang sebagai etalase budaya yang memadukan kekuatan tradisi dan sentuhan modern.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana Anak Agung Komang Sapta Negara, melalui Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif Disparbud Jembrana Ni Komang Ayu Tri Ardanawati, menjelaskan bahwa JSF bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang edukasi, kolaborasi, dan penguatan identitas budaya daerah.

Festival ini kami mulai dengan kegiatan workshop pada 19 Desember yang melibatkan siswa SMP dan SMA se-Jembrana, serta ibu-ibu yang tergabung dalam sekaa jegog wanita. ”Ini bentuk regenerasi sekaligus pemberdayaan,” ujarnya.

Hari pertama JSF diisi dengan workshop seni jegog yang interaktif, kemudian ditutup dengan lomba tetabuhan jegog, menghadirkan atmosfer kompetitif sekaligus edukatif bagi para penabuh muda dan komunitas seni.

Materi workshop di berikan oleh Wayan Gama Astawa, Ketut Dernen, Gede Satria mencakup penjelajahan sejarah Jegog, teknik tuning dan pengikatan bilah, hingga praktik cara memainkan Jegog sebagai upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap warisan musik bambu khas Jembrana ini.

Memasuki hari kedua, rangkaian acara berlanjut dengan diskusi budaya dan acara seremonial sebagai puncak Jegog Spirit Festival.

Beragam hiburan digelar di beberapa panggung berbeda, menyajikan kekayaan seni Jembrana dan Bali, mulai dari tari makepung massal, tabuh jegog lestari, bumbung kepyak, kendang mebarung, hingga gamelan rinting pitu.

Tak hanya itu, kolaborasi lintas genre juga dihadirkan melalui penampilan Keroncong Jancuk, Mr. Rayan, Mang Verly, hingga Made Gimbal, menjadikan JSF sebagai ruang temu antara tradisi dan ekspresi musik modern.

Sejumlah tokoh penting turut diundang, di antaranya unsur Forkopimda, para bupati dan wali kota se-Bali, OPD Pemprov Bali, seluruh OPD Pemkab Jembrana, camat, lurah, perbekel, hingga bendesa adat.

Menurut Ni Komang Ayu, secara konseptual JSF memiliki tujuan jangka panjang. Dari sisi budaya, festival ini diharapkan memperkuat jegog sebagai identitas budaya Jembrana yang kelak dapat diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia.

Dari sektor pariwisata, JSF ditargetkan menembus level event nasional dan terintegrasi dalam Kharisma Event Nusantara (KEN).

“Sementara dari sisi ekonomi kreatif, kami ingin festival ini menggerakkan subsektor ekraf seperti kuliner, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan subsektor lainnya yang menjadi daya tarik wisata selama event berlangsung,” jelasnya.

Puncak kemeriahan akan tersaji pada hari ketiga, dengan penampilan artis lokal Jembrana, puppet show, Janger Komunitas Kertas Budaya, serta sejumlah pertunjukan kolaboratif.

Jegog Spirit Festival 2025 akan ditutup dengan penampilan spesial artis Bali, Tika Pagraky, menandai berakhirnya perayaan budaya yang sarat makna.

Dengan konsep matang dan kemasan atraktif, Jegog Spirit Festival 2025 diharapkan tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan—menguatkan jati diri Jembrana sekaligus menarik wisatawan untuk mengenal lebih dekat denyut budaya Bali Barat.

Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan didampingi Wakil Bupati IGN Patriana Krisna menegaskan, Jembrana bergetar bukan karena bencana alam, melainkan karena semangat para seniman dalam menjaga warisan leluhur.


“Hari ini Jembrana bergetar bukan karena gempa, tetapi karena dentuman bambu-bambu jegog yang dimainkan oleh para seniman kita.

Saya menyaksikan langsung betapa luar biasanya semangat 75 sekaa jegog yang hadir di sini, semua dilandasi kecintaan terhadap seni budaya tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.

Menurutnya, Jegog bukan sekadar musik, melainkan suara tanah Jembrana yang dimainkan dengan hati, gotong royong, dan kebersamaan.

“Ketika orang mendengar Jegog, yang teringat adalah Jembrana. Melalui Jegog Spirit Festival 2025 ini, saya meyakini Jegog akan terus tumbuh subur dan tidak akan pernah punah,” tegasnya.

Gubernur Bali yang diwakili Kepala Biro Pengadaan Barang/Jasa dan Perekonomian Setda Provinsi Bali I Made Budi Adiana, menyampaikan bahwa festival ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam pelestarian, pembinaan, pengembangan, serta pemanfaatan seni budaya daerah.

Terlebih, Jegog telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional.

“Jegog bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi identitas jati diri dan kebanggaan masyarakat Jembrana yang diwariskan secara turun-temurun,” katanya.

Melalui festival ini, pihaknya berharap tercipta ruang ekspresi bagi para seniman Jegog, mendorong regenerasi pelaku seni, serta memperkuat peran generasi muda agar tetap mencintai dan melestarikan warisan budaya leluhur di tengah derasnya globalisasi dan modernisasi. 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#Bupati jembrana i Made Kembang Hartawan #Jegog Spirit Fest