NEGARA, Radar Bali.id – Sedimentasi parah di Sungai Tukadaya kembali mengancam warga Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Jembrana.
Sebanyak 15 kepala keluarga yang bermukim di belakang Masjid Muhajirin kini waswas, lantaran permukiman mereka menjadi langganan banjir hingga ketinggian satu meter setiap kali hujan deras mengguyur.
Kondisi geografis pemukiman yang berada tepat di lekukan sungai berbentuk huruf "U" menjadi faktor utama. Aliran sungai yang berkelok tajam ditambah pendangkalan hebat membuat air dari hulu kerap meluap dan menerobos masuk ke rumah warga.
Baca Juga: Kerusakan Jembatan di Tukadaya Semakin Parah Akibat Banjir, Diperkirakan Rugi Rp6,5 Miliar
"Masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Meski sudah ada tanggul, air tetap meluap karena sungai sudah sangat dangkal. Solusi satu-satunya hanya pengerukan," tegas Klian Banjar Pebuahan, Kanzan, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Suasana Sepi, Kantor Bumdes Tukadaya, Jembrana, Dibobol Maling
Pihak banjar dan pemerintah desa mengaku sudah berulangkali mengusulkan bantuan alat berat kepada pemerintah daerah untuk melakukan pengerukan darurat, namun hingga kini upaya tersebut belum membuahkan hasil. Upaya pengerukan sungai untuk mencegah pendangkalan tidak dilakukan.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata sebelum puncak musim hujan tiba. Tanpa adanya normalisasi atau pengerukan sungai Tukadaya, pemukiman di sepanjang jalur Denpasar-Gilimanuk ini dipastikan akan terus terendam banjir yang melumpuhkan aktivitas warga.[*]
Editor : Hari Puspita