Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Nah! Ribetnya Urusan Sampah, Sampai Begini Doanya "Ya, Tuhan, Cabut Nyawa Pembuang Sampah”

Muhammad Basir • Senin, 12 Januari 2026 | 13:25 WIB
DIDOAKAN MATI KARENA SAKING KESALNYA: Salah satu Jalan Banjar Air Anakan, Desa Banyubiru, Jembrana, memasang tulisan peringatan didoakan mati bagi para pembuang sampah. (M.Basir)
DIDOAKAN MATI KARENA SAKING KESALNYA: Salah satu Jalan Banjar Air Anakan, Desa Banyubiru, Jembrana, memasang tulisan peringatan didoakan mati bagi para pembuang sampah. (M.Basir)

 

NEGARA, Radar Bali.id  – Urusan sampah di Bali memang ribet di mana-mana. Berbagai cara dilakukan pemerintah desa untuk menyadarkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan.

Namun, apa yang dilakukan Pemerintah Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana ini tergolong keras, sarkastis, ekstrem, sangat berani dan tak lazim.

Ini terlihat di salah satu sudut Jalan Banjar Air Anakan, Desa Banyubiru, kini terpampang sebuah poster peringatan yang bisa membuat siapa pun bergidik saat membacanya. Alih-alih berisi kutipan peraturan daerah (Perda), papan tersebut justru berisi "doa kematian" yang dialamatkan langsung kepada para pelanggar.

“Perhatian! Ya Tuhan, Tolong Cabut Nyawa Orang yang Buang Sampah di Kawasan Ini! Setiap Ucapan Merupakan Doa,” demikian bunyi tulisan pada papan peringatan tersebut.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut ditengarai sering menjadi sasaran oknum masyarakat untuk membuang sampah secara liar (dumping). Dampak dari tumpukan sampah ini tidak main-main, mulai dari aroma yang menyengat hingga risiko banjir yang mengintai saat musim penghujan tiba.

Pemerintah Desa Banyubiru berharap, dengan pendekatan spiritual yang keras ini, warga yang berniat membuang sampah sembarangan akan berpikir dua kali. Mereka mencoba menyentuh sisi psikologis masyarakat melalui keyakinan bahwa "setiap ucapan adalah doa".

Namun, pertanyaan besarnya tetap tertuju pada kesadaran masyarakat itu sendiri. Efektifkah doa kutukan ini?

Jika si pembuang sampah tetap bersikap cuek dan kehilangan rasa empati terhadap lingkungan, papan peringatan tersebut tentu hanya akan menjadi hiasan pinggir jalan semata. Keberhasilan upaya ini pada akhirnya sangat bergantung pada apakah si pembuang sampah masih memiliki rasa takut—baik kepada Tuhan maupun kepada dampak bencana yang akan dirasakan bersama.[*]

Editor : Hari Puspita
#problem sampah #larangan membuang sampah #jembrana #pengumuman