NEGARA, Radar Bali.id – Keluhan masyarakat terkait mandeknya pengangkutan sampah di rumah-rumah dan tempat pembuangan sementara (TPS) direspons cepat oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jembrana, I Made Budiasa, turun langsung mengecek kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Peh di Desa Kaliakah, Minggu (1/2/2026).
Mandeknya layanan ini menyebabkan sampah menumpuk berhari-hari hingga menimbulkan aroma tak sedap di lingkungan warga. Berdasarkan hasil tinjauan, Budiasa mengungkapkan bahwa biang kerok masalah tersebut adalah kerusakan alat berat di TPA Peh.
"Ekskavator satu-satunya yang masih bisa dioperasikan mengalami kerusakan. Akibatnya, petugas tidak bisa menata kiriman sampah yang datang, sehingga lahan untuk membuang sampah baru menjadi penuh," jelas Budiasa, Senin (2/2/2026).
Selama ini, TPA Peh mengandalkan dua unit ekskavator untuk menata tumpukan sampah dari truk. Namun, satu unit sudah rusak sejak beberapa bulan lalu, dan kini unit terakhir pun menyusul rusak. Meski ada kebutuhan mendesak untuk pengadaan alat baru, Budiasa mengaku saat ini anggaran belum tersedia.
Sebagai solusi jangka pendek, Budiasa menginstruksikan pengelola TPA Peh dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk mengejar ketertinggalan pengangkutan. Ritme pengangkutan yang biasanya hanya dua kali sehari diminta naik menjadi tiga hingga empat kali sehari agar penumpukan di masyarakat segera teratasi. "Mulai hari ini, aktivitas di TPA kami targetkan normal kembali," tegasnya.
Manajer Operasional TPST Peh, I Made Suarnayasa, menyatakan kesiapannya untuk menambah intensitas angkutan. "Kami sanggup menambah ritme hingga 4 kali sehari, asalkan alat berat beroperasi dan area bongkar muat (loading) sudah tersedia," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita