NEGARA, RadarBali.id – Penerapan uang elektronik (e-money) untuk retribusi di Terminal Manuver dan Terminal Penumpang Gilimanuk menghadapi tantangan besar menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Meski sistem non-tunai sudah diberlakukan sejak Februari lalu, potensi kebocoran pendapatan akibat lonjakan kendaraan masih menghantui.
Kabid Perhubungan Jembrana, I Gusti Putu Widana, mengakui bahwa belum semua pengguna jalan siap dengan sistem digital. "Jika pengendara tidak punya kartu, petugas di loket akan membantu dengan kartu cadangan. Namun, tantangan terberat adalah saat kemacetan parah," ujarnya.
Potensi Kebocoran Tinggi
Data mudik tahun 2025 menunjukkan angka yang kontras:
- Pendapatan Realisasi: Rp 218 Juta (dari 78.378 unit kendaraan).
- Fakta Lapangan: Jumlah kendaraan yang keluar Bali diprediksi sepuluh kali lipat dari yang tercatat membayar.
Kebocoran ini terjadi bukan karena pungutan liar, melainkan kebijakan diskresi.
Saat antrean mengular, palang pintu terpaksa dibuka lebar demi mengurai kemacetan, sehingga retribusi tidak bisa dipungut. Untuk mengantisipasi "oknum nakal" di tengah situasi kaos tersebut,
Dishub telah memasang CCTV yang terhubung langsung ke ruang pengawas guna memastikan transparansi petugas di lapangan.[*]
Editor : Hari Puspita