Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kemarau Datang Lebih Cepat, Dinas Pertanian Jembrana Siapkan Skenario Penyelamatan Sawah

Muhammad Basir • Selasa, 31 Maret 2026 | 10:47 WIB
ilustrasi kekeringan sawah karena kemarau. (gambar digital gemini/radar bali)
ilustrasi kekeringan sawah karena kemarau. (gambar digital gemini/radar bali

NEGARA, Radar Bali.id – Alarm kewaspadaan mulai dinyalakan bagi sektor pertanian di Kabupaten Jembrana. Pasalnya, musim kemarau tahun 2026 ini diperkirakan bakal menyapa lebih awal dan berlangsung lebih lama.

Yakni mulai bulan April depan. Kondisi ini tentu memicu potensi ancaman kekeringan ekstrem pada lahan persawahan.

Baca Juga: Berisiko Kekeringan, Begini Potensi "Kemarau Godzilla" 2026 Berdasarkan Prediksi BMKG -BRIN tentang Risiko Sulit Hujan di Wilayah Indonesia

Mengantisipasi gagal panen, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Jembrana langsung tancap gas menyiapkan sejumlah langkah strategis demi mengamankan produksi pangan.

Pola Tanam dan Varietas Khusus

Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma, mengungkapkan bahwa mitigasi dini telah dilakukan. Pihaknya sudah meneruskan data prakiraan iklim dari BMKG kepada para petani melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

"Informasi iklim ini krusial agar petani bisa menyesuaikan pola tanam sejak awal dan tidak berspekulasi," ujarnya.

Bagi petani yang tetap nekat menanam padi di musim kering ini, dinas sangat menyarankan untuk menggunakan benih varietas genjah yang tahan kekeringan, seperti:

Terapkan Metode "Air Terputus"

Tak hanya soal benih, pengelolaan air irigasi kini wajib dilakukan secara super hemat. Petani diarahkan untuk menerapkan metode pengairan terputus. Artinya, sawah tidak lagi digenangi air secara terus-menerus, melainkan hanya diairi pada fase-fase kritis saat tanaman padi benar-benar membutuhkannya.

Dinas juga menyarankan pemanfaatan sumber air alternatif seperti embung dan sumur bor. Namun, Ngurah Arya memberikan catatan keras soal penggunaan mesin pompa.

"Kami tidak menyarankan petani bergantung penuh pada pompa sejak awal masa tanam. Biaya operasionalnya tinggi (BBM) dan justru bisa melambungkan biaya produksi yang akhirnya membebani petani sendiri. Pompa hanya untuk darurat," tegasnya.

Beruntung, hingga akhir Maret ini laporan dari petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) menunjukkan kondisi persawahan di Jembrana masih dalam kategori aman dan belum ada yang teridentifikasi kekeringan. [*]

Editor : Hari Puspita
#lahan pertanian #dinas pertanian #kemarau panjang #kekeringan