Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

UPDATE PENANGANAN SAMPAH JEMBRANA: TPA Peh Belum Optimal, Alat Berat Rusak, Hanggar RDF pun Masih Mangkrak

Muhammad Basir • Kamis, 9 April 2026 | 09:29 WIB
MUBAZIR: Bangunan hanggar di TPA Peh yang dibangun tahun 2025 belum digunakan. (foto:M.Basir/Radar Bali)
MUBAZIR: Bangunan hanggar di TPA Peh yang dibangun tahun 2025 belum digunakan. (foto:M.Basir/Radar Bali)

 NEGARA, Radar Bali.id – Ambisi pengelolaan sampah modern di TPA Peh, Jembrana, masih terganjal sejumlah kendala teknis dan tak kunjung tuntas solusinya. 

Hingga saat ini, operasional di lokasi tersebut dilaporkan belum berjalan optimal akibat minimnya dukungan alat berat dan belum difungsikannya infrastruktur baru.

Baca Juga: Ekskavator TPA Peh Rusak Hingga Sampah Menumpuk, Sekda Jembrana Pastikan Pengangkutan Normal Pekan Ini

Persoalan utama yang mencolok adalah rusaknya beberapa unit alat berat. Kondisi ini menyebabkan proses penataan gunungan sampah terhambat, sehingga timbunan sampah sulit dikelola sesuai standar operasional yang berlaku.

Baca Juga: Duh! TPA Peh Jembrana Krisis Lahan dan Alat Berat: Terima Sampah 87 Ton Per Hari, 70 Persen Sampah dari Rumah Tangga

Selain masalah alat berat, keberadaan hanggar baru yang dibangun pada tahun 2025 di sisi timur TPA juga menjadi sorotan.

Bangunan yang awalnya dirancang sebagai lokasi pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF) tersebut hingga kini masih kosong dan belum dimanfaatkan.

Kepala UPTD TPA Peh, I Putu Ardana, mengakui kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa hanggar tersebut sedianya dipersiapkan untuk mesin RDF. Namun, mesin yang tersedia saat ini justru dioperasikan di bangunan lain yang terletak di sisi utara area TPA.

”Hanggar yang dibangun tahun 2025 itu rencananya memang untuk mesin RDF. Tapi karena mesin yang ada sekarang menggunakan bangunan di sebelah utara, hanggar baru tersebut belum bisa dimanfaatkan,” ungkap Ardana.

Meski demikian, pihak UPTD memastikan infrastruktur tersebut tidak akan dibiarkan terbengkalai. Ardana menyebutkan pihaknya berencana melakukan pengadaan mesin RDF tambahan di masa mendatang.

"Nanti kalau ada pengadaan mesin RDF lagi, hanggar itulah yang akan kami pakai," tandasnya.

Penerapan teknologi RDF diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk menekan volume sampah di Jembrana. Namun, realisasi target tersebut kini bergantung pada percepatan perbaikan sarana prasarana serta ketersediaan mesin tambahan agar fasilitas yang sudah dibangun tidak mubazir.[*]

Editor : Hari Puspita
#kendala teknis #problem sampah di Bali #pengelolaan sampah #TPA Peh Kaliakah #penanganan sampah