NEGARA, RadarBali.id – Kabupaten Jembrana resmi memasuki masa peralihan musim atau pancaroba pada pertengahan April ini. Meski intensitas hujan mulai melandai, masyarakat diminta tidak lengah karena potensi ancaman bergeser ke fenomena alam lain: gelombang laut tinggi dan kekeringan.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, melalui staf analisa Trayi Budi Samantu, mengungkapkan bahwa tren cuaca ke depan akan relatif lebih kering.
"Jembrana diprediksi memasuki April dasarian dua, yang berarti hujan akan semakin berkurang secara signifikan," jelasnya.
Waspada pancaroba kemarau di Jembrana:
- Aktivitas Laut: Nelayan dan pelaku wisata bahari diimbau waspada terhadap potensi gelombang tinggi di perairan Selat Bali bagian selatan. Namun, jalur penyeberangan Gilimanuk-Ketapang dipastikan masih aman karena berada di lintasan utara.
- Ancaman Kekeringan: Wilayah Jembrana bagian barat, khususnya Kecamatan Melaya, menjadi atensi khusus. Secara historis, wilayah ini paling rawan terdampak kekeringan, yang ditandai dengan menyusutnya debit air di Bendungan Palasari.
- Efek El Nino: Kabar baiknya, intensitas El Nino tahun ini diperkirakan berada di level lemah hingga moderat. Dampaknya diprediksi tidak akan memicu krisis air bersih ekstrem, namun sektor pertanian dan perkebunan tetap menjadi yang paling rentan terdampak.[*]
Sumber : Radar Bali