JEMBRANA, Radar Bali.id – Perjuangan warga pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, untuk melindungi lahan mereka dari amukan ombak kembali menemui jalan buntu.
Senderan pengaman pantai berupa batu bronjong yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat di kawasan Penuaan, kini luluh lantak diterjang gelombang tinggi.
Hancurnya bronjong darurat tersebut membuat abrasi kian tak terkendali. Daratan terus terkikis hingga mendekati akses jalan dan pemukiman warga. Kondisi ini memicu kecemasan mendalam bagi penduduk setempat yang merasa "berkejaran" dengan waktu.
Berdasarkan data di lapangan, dari total dua kilometer garis pantai yang terdampak abrasi parah, baru sekitar 780 meter yang telah ditangani oleh pemerintah melalui pembangunan infrastruktur permanen pada tahun 2024 lalu. Sisanya, sepanjang lebih dari satu kilometer, masih dalam kondisi kritis dan rawan tergerus.
"Harapan kami pembangunan (pengaman pantai) bisa segera dilanjutkan," ungkap Tari, salah seorang warga terdampak.
Masyarakat menilai penanganan yang dilakukan saat ini belum menyeluruh, sehingga ancaman kerusakan infrastruktur jalan dan rumah warga tetap tinggi. Mereka mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan keberlanjutan proyek pengaman pantai secara merata demi menyelamatkan sisa lahan dan aset yang ada di pesisir Pebuahan.[*]
Editor : Hari Puspita