NEGARA, Radar Bali.id – Ancaman abrasi di pesisir barat Bali memasuki fase mengkhawatirkan. Seiring cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang diprediksi bertahan hingga Agustus mendatang.
Kondisi ini tak pelak membuat warga Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, kini dirundung kecemasan luar biasa.
Baca Juga: Bronjong Mandiri Hancur, Warga Pebuahan Tagih Kelanjutan Proyek Cegah Keganasan Abrasi
Hanya dalam kurun waktu sepekan terakhir, terjangan ombak telah merobohkan sejumlah rumah warga di area yang belum terlindungi senderan.
Baca Juga: Terkurung Aliran Sungai "U", Belasan Rumah di Pebuahan Langganan Banjir hingga Satu Meter
Mirisnya, beberapa bangunan dilaporkan sudah hilang total tersapu laut. Pantauan di lapangan menunjukkan air laut kian agresif mengikis daratan, mengancam akses jalan umum dan permukiman yang tersisa.
Dari total dua kilometer garis pantai di Pebuahan, baru sekitar 780 meter yang terlindungi senderan pengaman. Sisanya masih menjadi "sasaran empuk" hantaman gelombang selatan.
"Kami sangat berharap pembangunan senderan dilanjutkan. Kalau dibiarkan seperti ini, kampung nelayan Pebuahan bisa habis. Abrasi setiap tahun makin ganas," keluh salah satu warga setempat.
Masyarakat kini hanya bisa berharap adanya atensi serius dari pemerintah daerah maupun pusat. Pasalnya, Pebuahan bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan pusat ekonomi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor perikanan. Jika daratan terus menyusut, keberlangsungan hidup ratusan nelayan di ujung barat Bali ini pun ikut terancam.[*]
Editor : Hari Puspita