NEGARA, Radar Bali.id - Kendaraan yang hendak menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk terpaksa harus terjebak kemacetan panjang di Jalur Utama Denpasar - Gilimanuk sejak Rabu (24/6/2026) malam.
Baca Juga: Gelombang Tinggi dan Libur Sekolah, Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Macet Horor
Antrean kendaraan dilaporkan sempat mengular hingga mencapai lebih dari dua kilometer dari area Pelabuhan Gilimanuk.
Bahkan, antrean kendaraan kecil terpaksa dialihkan dengan menggunakan gang-gang di tengah pemukiman warga Kelurahan Gilimanuk. Penggunaan jalur pemukiman seperti momen arus mudik lebaran ini dilakukan guna memecah kepadatan di jalan nasional.
Baca Juga: Akhir Pekan Jalur Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk Sempat Mengular, ASDP Sebut Masih Batas Wajar
”Antrean kendaraan sudah menggunakan gang mulai tadi malam,” ujar Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma pada Kamis (25/6/2026).
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, Kompol I Gusti Kade Alit Murdiasa menjelaskan bahwa pada Rabu (24/6/2026) malam, ekor antrean kendaraan bahkan sudah mendekati kawasan Hutan Cekik, tepatnya di dekat jembatan timbang. Untuk mengantisipasi kemacetan total, pihaknya langsung menerapkan skema rekayasa lalu lintas.
- Kendaraan Kecil: Diarahkan melewati gang di pemukiman warga sebagai jalur alternatif.
- Kendaraan Besar (Truk): Tetap diwajibkan bertahan di jalur utama nasional.
Menurut Kompol Alit Murdiasa, biang keladi dari kemacetan panjang ini adalah cuaca buruk yang melanda Selat Bali, sehingga mengganggu proses bongkar muat kapal. Pelabuhan Ketapang dihantam gelombang tinggi, yang diperparah dengan tingginya volume kendaraan yang datang. Untuk mengatasinya, otoritas pelabuhan kini memberlakukan sistem Tiba Bongkar Berangkat (TBB).
Sementara itu, Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Bintang Felfian membenarkan bahwa arus kuat di Selat Bali membuat kapal, khususnya jenis LCM, mengalami kesulitan besar untuk bersandar di dermaga. Pihaknya kini terus memaksimalkan operasional kapal dengan berbagai pola agar antrean bisa segera terurai.[*]
Editor : Hari Puspita