NEGARA, Radar Bali.id – Dampak musim kemarau mulai mengancam sektor pertanian di Kabupaten Jembrana. Areal persawahan yang mengalami kekeringan kini meluas hingga mencapai 55 hektare.
Dari total lahan terdampak tersebut, baru sekitar 1 hektare yang berhasil pulih setelah dipasok air.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Jembrana I Komang Ngurah Arya Kusuma membeberkan, pada awal Juli luas sawah terdampak kekeringan tercatat 45 hektare. Namun belakangan, terjadi penambahan sekitar 10 hektare.
”Yang sudah pulih baru sekitar 1 hektare,” kata Arya.
Kendati luas lahan terdampak terus bertambah, Arya memastikan tingkat kekeringan masih masuk kategori ringan hingga sedang. Sehingga, sampai saat ini belum ada areal tanaman padi yang dinyatakan gagal panen atau puso.
”Sejauh ini belum ada yang sampai puso,” tegasnya.
Untuk menyiasati minimnya pasokan air irigasi, sebagian besar petani memanfaatkan pompa sumur bor. Namun tingginya tingkat penguapan selama musim kemarau membuat debit air sumur bor belum mampu mengairi sawah secara optimal.
Guna mencegah dampak yang lebih luas, Dinas Pertanian menyarankan para petani untuk beralih menggunakan varietas padi yang lebih tahan kekeringan, seperti Inpari 38, Inpari 40, Inpari 46 Agritan, Inpari 49, Situ Bagendit, hingga Cakrabuana.
Selain pemilihan benih, petani juga diimbau menerapkan metode irigasi berselang atau air terputus. Melalui pengaturan pola pengairan ini, lahan tidak digenangi air secara terus-menerus, melainkan hanya diairi pada fase-fase kritis pertumbuhan tanaman.
”Metode air terputus cukup efektif menghemat penggunaan air tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman padi,” pungkas Arya. [*]
Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali