RADAR BALI – Dampak puncak musim kemarau di Kabupaten Jembrana kian mengkhawatirkan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana melaporkan bahwa jumlah warga yang mengalami krisis air bersih terus bertambah, dari yang semula 529 Kepala Keluarga (KK) kini membengkak menjadi 596 KK.
Kelangkaan air bersih ini menjangkau sedikitnya lima desa dan kelurahan yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Jembrana, Negara, Melaya, dan Mendoyo.
Sebaran Wilayah Terdampak di Jembrana
Wilayah terdampak krisis air bersih mencakup beberapa titik krusial di Kabupaten Jembrana:
Kecamatan Jembrana: Kelurahan Pendem (Lingkungan Dewasana dan Lingkungan Pancardawa)
Kecamatan Negara: Kelurahan Baler Bale Agung (Lingkungan Pangkung Manggis) serta area pemukiman di Desa Berangbang
Kecamatan Mendoyo: Desa Pergung (Banjar Petapan Kelod)
Kecamatan Melaya: Desa Manistutu (Banjar Pendem dan Banjar Tunas Mekar)
Langkah Penanganan BPBD dan Instansi Terkait
Merespons kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Jembrana bergerak menyalurkan bantuan air bersih secara berkala untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Sejauh ini, lebih dari 107.000 liter air bersih milik PDAM telah didistribusikan langsung ke bak-bak penampungan serta tandon warga. BPBD juga menyiagakan tandon air darurat berkapasitas 5.000 liter di berbagai titik rawan kekeringan.
Agar penanganan berjalan efektif dan tepat sasaran, pihak desa maupun kelurahan yang wilayahnya mulai mengalami krisis air diimbau segera mengajukan surat permohonan resmi ke BPBD Jembrana untuk penjadwalan armada tangki air.
BMKG Rilis Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis
Situasi di Jembrana sejalan dengan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis yang dirilis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar.
Puncak musim kemarau tahun ini diwarnai curah hujan yang sangat rendah, berada di bawah 50 mm per dasarian.
Domimasi angin monsun Australia yang kering turut memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di kawasan pesisir dan dataran rendah Bali.
Selain Jembrana, BMKG mengelompokkan sejumlah kawasan lain di Bali ke dalam peta status Waspada hingga Siaga Kekeringan:
Kabupaten Buleleng: Pesisir utara seperti Gerokgak, Seririt, Kubutambahan, hingga Tejakula.
Kabupaten Karangasem: Area lereng dan pesisir timur, meliputi Kecamatan Kubu, Abang, dan Karangasem.
Kabupaten Bangli: Wilayah dataran sedang hingga rendah yang pasokan air gravitasinya terus menyusut.
Puncak Kemarau dan Durasi Musim Kering di Bali
Berdasarkan analisis BBMKG Wilayah III Denpasar, puncak musim kemarau di Bali berlangsung pada Agustus 2026 dengan suhu udara harian berada pada titik tertinggi dan intensitas hujan paling minimal.
Secara umum, musim kering tahun ini datang lebih awal sejak rentang Maret hingga Mei 2026 di 20 Zona Musim (ZOM) Bali. BMKG memperkirakan musim kemarau baru akan berakhir pada November atau awal Desember 2026 saat wilayah Bali mulai memasuki masa transisi menuju musim hujan.
Dengan total durasi mencapai 7 hingga 8 bulan, kemarau kali ini terasa lebih panjang dan kering akibat pengaruh monsun Australia serta minimnya penguapan di permukaan laut.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali