NEGARA, Radar Bali.id – Pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan dengan nilai proyek lebih dari Rp 1,2 triliun mulai memasuki fase persiapan teknis.
Meskipun peletakan batu pertama (groundbreaking) dijadwalkan September mendatang, sejumlah skema telah disiapkan agar pembangunan tidak mengganggu aktivitas nelayan tradisional.
Persiapan teknis tersebut mulai dilakukan sejak awal Agustus 2026. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah pengaturan aktivitas nelayan selama pekerjaan konstruksi berlangsung. Bahkan, simulasi bagi nelayan tradisional telah dilakukan untuk memastikan kegiatan melaut tetap berjalan tanpa menghambat proyek pembangunan.
Kepala Sub Bagian Umum PPN Pengambengan, Lukman Hadi, mengatakan skema khusus disiapkan untuk mengatur aktivitas nelayan di tengah proses konstruksi.
”Untuk nelayan tradisional juga sudah dilakukan simulasi supaya nelayan tetap bisa melaut dan pelaksanaan pembangunan bisa terus berjalan,” ujar Lukman saat dikonfirmasi, Senin, 17 Agustus 2026 Wita.
Menurutnya, pengaturan tersebut menjadi bagian penting dalam tahap awal pembangunan. Sebab, aktivitas nelayan di kawasan Pengambengan selama ini tetap berjalan dan menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat pesisir Jembrana.
Pengembangan PPN Pengambengan mencakup kawasan seluas 49 hektare. Rinciannya, sekitar 13 hektare merupakan kawasan eksisting, sedangkan 36 hektare lainnya merupakan kawasan hasil reklamasi.
Sementara itu, Kepala PPN Pengambengan Kartono membenarkan proyek pembangunan dijadwalkan menjalani groundbreaking pada Kamis, 17 September 2026. Namun, jadwal tersebut masih memungkinkan mengalami perubahan. ”Benar seperti itu informasinya terkait tender dan lain-lain, namun jadwal groundbreaking kan bisa saja berubah,” kata Kartono.
Proyek tersebut dikerjakan oleh konsorsium CRBC Joint Operation (JO) Nindya Karya. Penandatanganan tender sendiri telah rampung pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Pembangunan PPN Pengambengan ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi dan daya tampung kapal, penyerapan tenaga kerja, hingga meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Pelabuhan tersebut juga diproyeksikan menjadi salah satu pusat perikanan strategis di Bali.
Terkait rencana pemindahan kapal dari Pelabuhan Benoa ke Pengambengan, Lukman memastikan relokasi belum dilakukan dalam waktu dekat. Pemindahan baru dilakukan setelah seluruh fasilitas fisik rampung dan pelabuhan selesai diresmikan. ”Pemindahan kapal yang di Benoa dilakukan setelah pembangunan selesai. Karena arahannya selesai diresmikan baru pemindahan dimulai,” tandasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali