NEGARA, Radar Bali.id – Dampak puncak musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Jembrana.
Baca Juga: Kekeringan Melanda Desa Siakin, Warga Beli Air Rp 100 Ribu per Kubik
Luasan lahan pertanian yang mengalami kekeringan meluas secara signifikan, dari sebelumnya hanya sekitar 45 hektare pada awal Juli, kini membengkak menjadi 111,5 hektare.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Jembrana I Komang Ngurah Arya Kusuma membeberkan, pembaruan data tersebut didapat dari hasil pemantauan lapangan terbaru.
Baca Juga: Kekeringan Semakin Meluas di Jembrana, 11 Desa Krisis Air Bersih, akhirnya BPBD Opsi Siaga Darurat
Meski ada penambahan lahan kering, beberapa titik berhasil dipulihkan setelah dilakukan penanganan.
”Awal Juli yang terdampak sekitar 45 hektare. Yang pulih baru satu hektare. Sekarang ada tambahan sekitar 10 hektare yang pulih,” ujar Arya Kusuma, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Krisis Air Bersih Meluas di Jembrana, BMKG Diprediksi Kemarau Berakhir Desember
Dengan demikian, total lahan yang berhasil pulih tercatat seluas 10 hektare. Namun, lahan yang masuk kategori gagal panen total atau puso tidak bergeming dari angka 22 hektare.
Arya Kusuma menambahkan, meluasnya area yang terdampak tidak lepas dari masuknya puncak musim kemarau. Jika tidak segera mendapatkan suplai air yang memadai, status lahan yang kini kekeringan berpotensi memburuk menjadi puso.
”Seiring puncak kemarau, kekeringan semakin meluas menjadi 111,5 hektare. Yang pulih 10 hektare, sedangkan puso tetap 22 hektare. Mudah-mudahan tidak bertambah lagi,” harapnya.
Untuk menekan dampak buruk tersebut, Dinas Pertanian Jembrana terus mengoptimalkan pemanfaatan bantuan pompa air guna menyiram area pertanaman yang masih bisa diselamatkan.
Kendati demikian, upaya tersebut terkendala oleh keterbatasan unit armada pompa dibanding dengan luas lahan yang membutuhkan pasokan air.
”Untuk mencegah puso, kami manfaatkan pompa yang ada dengan lebih optimal. Namun untuk lahan yang sudah terlanjur puso, kapasitas pompa yang ada memang tidak mampu meng-cover seluruh luas pertanaman,” terangnya.
Pihaknya pun mengimbau para petani untuk tetap waspada dan berhemat air, terutama di wilayah-wilayah yang debit sumber airnya sudah menipis. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali