NEGARA, Radar Bali.id – Presiden RI Prabowo Subianto menekankan percepatan kemandirian energi nasional. Dari Gilimanuk, Jembrana, Selasa (25/8/2026), Prabowo resmi meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp).
Baca Juga: Koster Wajibkan Rumah di Sanur & Nusa Penida Pasang PLTS, Segini Biayanya
Tak sekadar seremoni, Prabowo memasang target ambisius. Proyek raksasa energi surya itu ditargetkan rampung dalam waktu kurang dari tiga tahun, atau sebelum 2029.
”Tidak main-main. Kita akan bangun 100 GW,” tegas Prabowo saat memberikan sambutan dalam peluncuran Program PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk.
Prabowo bahkan menantang jajaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membuktikan target tersebut. Dia sempat menanyakan kesiapan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang hadir dalam acara tersebut.
“Bahlil, siap?” tanya Prabowo.
“Siap,” jawab Bahlil.
Prabowo kemudian menegaskan, tiga tahun mendatang dirinya ingin kembali bertemu dengan jajaran terkait untuk berbicara mengenai hasil pembangunan, bukan lagi sekadar rencana. ”Kita buktikan tiga tahun lagi. Kita kumpul lagi. Kita bicara bukti,” tandasnya.
Menurut Prabowo, target 100 GWp PLTS tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia. Sebagai gambaran, total kapasitas pembangkit listrik nasional dari berbagai sumber energi saat ini sekitar 88 GW. Angka itu mencakup pembangkit berbasis batu bara, gas, minyak, hingga energi panas bumi.
Karena itu, tambahan kapasitas PLTS hingga 100 GWp dinilai bakal menjadi lompatan besar dalam sistem energi nasional. Prabowo menegaskan, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada energi impor. Dia menargetkan ketergantungan terhadap impor minyak hingga gas LPG dapat ditekan bahkan dihentikan.
”Dengan 100 GW, dengan geothermal, ladang gas, minyak, kita tidak boleh impor lagi minyak. Satu barel pun. Insyaallah sesingkat-singkatnya satu tabung pun gas elpiji tidak impor lagi,” ujarnya.
Prabowo mengaku optimistis target tersebut dapat dicapai lebih cepat. Dia bahkan membandingkannya dengan capaian pemerintah dalam program swasembada pangan. ”Dulu swasembada pangan target empat tahun. Tim ekonomi, tim pertanian, pangan selesai satu tahun,” kata Prabowo.
Karena itu, dia meminta tim energi tidak kalah cepat. Jika target awal tiga tahun bisa dipangkas menjadi dua tahun, Prabowo menjanjikan apresiasi khusus. ”Kalau target tim energi tiga tahun, paling tidak dua tahun. Kalau selesai dua tahun, tim energi dapat bintang,” selorohnya.
Peluncuran program PLTS 100 GWp ditandai groundbreaking 14 proyek PLTS yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Total kapasitas tahap awal mencapai 5,3 GWp.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam kesempatan yang sama menyebut program tersebut merupakan bagian dari langkah besar menuju swasembada dan kedaulatan energi nasional.
Bali sendiri mendapat porsi kapasitas sekitar 1.000 megawatt. Untuk mendukung pengembangan energi surya, pemerintah daerah disebut telah menyiapkan lahan sekitar 1.000 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 320 hektare telah mendapatkan surat atau dokumen yang diperlukan.
Bahlil menyebut pemanfaatan energi bersih juga penting bagi Bali sebagai daerah pariwisata. Menurutnya, citra Bali sebagai destinasi wisata harus dibarengi dengan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. ”Bali sekian lama merencanakan menarik wisatawan yang baik, maka harus pakai energi bersih,” ujarnya.
Program PLTS 100 GWp masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Pemerintah menargetkan pembangunan dilakukan secara bertahap, mulai dari tahap pertama 17 GWp, tahap kedua 18 GWp, hingga tahap ketiga 30 GWp.
Selain pembangunan PLTS, pemerintah juga menargetkan pengembangan 30 GWp PLTS sekaligus penghentian 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Secara nasional, potensi energi surya Indonesia diperkirakan mencapai 3.294 GWp. Namun, kapasitas PLTS terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp.
Dari sisi investasi, program tersebut diproyeksikan membutuhkan dana sekitar USD 73 miliar atau setara Rp 1.140 triliun. Sementara efisiensi biaya listrik diperkirakan mencapai Rp 73,9 triliun per tahun. Implementasi penuh program juga diproyeksikan menekan emisi hingga sekitar 140 juta ton CO2 serta membuka ribuan lapangan kerja. Pada tahap yang disampaikan pemerintah, tercatat potensi penyerapan sekitar 5.518 pekerja.
Prabowo tiba di lokasi acara sekitar pukul 15.28 Wita. Sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih turut hadir, di antaranya Menko Polkam Djamari Chaniago, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Bagi Prabowo, proyek PLTS 100 GWp bukan sekadar mengejar tambahan kapasitas listrik. Program ini menjadi bagian dari strategi agar Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri di tengah perubahan energi global. ”Intinya dengan 100 GW kita akan benar-benar banyak yang berdiri di kaki sendiri. Kita tidak takut dengan perkembangan apa pun di bagian apa pun di dunia,” tegasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali