NEGARA, Radar Bali.id – Sebanyak 26 armada kapal disiagakan untuk melayani lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Baca Juga: Dermaga MB II Gilimanuk Ditutup untuk Upgrade Kapasitas 50 Ton, Antrean Kendaraan Mengular di Jalur
Kendati demikian, besarnya jumlah armada tidak serta-merta menjamin kelancaran arus kendaraan. Faktor cuaca hingga dinamika arus laut kerap menjadi penentu utama kecepatan proses sandar dan bongkar muat.
Baca Juga: Nah! Gegara Dermaga MB II Masih Dalam Perbaikan, Antrean Kendaraan Mengular di Pelabuhan Gilimanuk
Dalam beberapa hari terakhir, trafik kendaraan di jalur penghubung Pulau Jawa dan Bali ini terpantau bergerak dinamis. Fluktuasi volume kendaraan berpadu dengan kuatnya arus laut menuntut penyesuaian pola operasi secara fleksibel.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang Media Syahrianto menegaskan, kelancaran operasional tidak hanya bersandar pada kuantitas kapal semata. Penataan terus dilakukan secara terpadu meliputi kesiapan armada, kondisi dermaga, hingga pengaturan lalu lintas di luar pelabuhan.
"Sebanyak 26 kapal siap mendukung pelayanan di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Pengaturan operasional kami lakukan secara dinamis mempertimbangkan trafik, kesiapan kapal dan dermaga, serta faktor cuaca perairan," ungkap Media.
Ia menambahkan, saat terjadi lonjakan kendaraan, skenario penguraian kemacetan diberlakukan mulai dari akses menuju pelabuhan. Kawasan Bulusan bahkan telah disiapkan sebagai buffer zone (penyangga) untuk mencegah penumpukan kendaraan terkonsentrasi di dalam area pelabuhan.
Di samping pengaturan pola operasi harian, PT ASDP saat ini juga sedang memacu penguatan infrastruktur. Peningkatan kapasitas Dermaga 2 Gilimanuk dari semula 30 ton menjadi 50 ton telah dimulainya pengerjaannya sejak Rabu (21/8/2026).
Langkah ini diintegrasikan dengan upgrade Dermaga Ponton Ketapang menjadi Moveable Bridge (MB) permanen berkapasitas 50 ton. Penguatan di kedua sisi pelabuhan ini ditujukan agar kendaraan logistik berbobot besar memiliki pilihan titik layanan yang lebih luas.
"Pengembangan infrastruktur ini kami lakukan untuk membangun kapasitas pelayanan yang lebih kuat dan tangguh (resilient) ke depan. Ketika ada lonjakan trafik atau kendala teknis, pola operasi dapat lebih mudah diadaptasi," terangnya.
ASDP turut mengimbau para pengguna jasa penyeberangan untuk rajin memantau informasi terkini sebelum melakukan perjalanan, mengingat kondisi cuaca dan trafik dapat berubah sewaktu-waktu. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali