NEGARA, Radar Bali.id – Kemarau panjang mulai menguras cadangan air bersih warga di Kabupaten Jembrana.
Baca Juga: Kering Kemarau Kian Parah, Kini BPBD Jembrana Gencarkan Pasok Ribuan Liter Air Bersih untuk Warga
Hingga pertengahan September 2026, krisis air bersih telah meluas dan berdampak pada sedikitnya 1.048 kepala keluarga (KK).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana bahkan telah menggelontorkan 408.200 liter air bersih ke sejumlah lokasi terdampak.
Jumlah warga terdampak diperkirakan masih akan terus bertambah mengingat puncak musim kemarau belum berakhir. Kondisi ini menuntut BPBD Jembrana menyiapkan langkah penanganan jangka panjang, bukan sekadar distribusi insidental.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, untuk memudahkan warga mendapatkan pasokan air, pihaknya telah memasang 18 unit bak penampungan di titik-titik rawan. Namun, keterbatasan tandon air komersial menjadi kendala tersendiri di lapangan.
BPBD pun mengambil langkah darurat dengan memanfaatkan terpal sebagai wadah penampungan air sementara.
”Karena ketersediaan penampung air seperti tandon sangat terbatas, kami membuat tempat penampungan darurat menggunakan terpal di beberapa titik. Yang terpenting, air yang didistribusikan bisa tertampung dan langsung dimanfaatkan oleh warga,” ujar Agus Artana.
Total distribusi air bersih yang disalurkan hingga saat ini telah mencapai 408.200 liter atau setara 408,2 meter kubik. Bantuan disebar ke wilayah-wilayah yang paling parah mengalami kekeringan.
Agus mengakui, daerah terdampak berpotensi meluas berdasarkan prakiraan cuaca. Musim kemarau diprediksi masih berlangsung hingga akhir tahun.
”Krisis air bersih ini berpotensi semakin meluas. Apalagi musim kemarau diprediksi masih akan terus terjadi hingga Desember mendatang,” tegasnya.
Menyikapi hal tersebut, BPBD Jembrana mulai menyiagakan armada dan personel untuk merespons laporan warga dengan cepat. Masyarakat disimbau untuk bijak serta menghemat penggunaan air bersih, sekaligus segera melapor jika wilayahnya mulai mengalami krisis air. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali