NEGARA, Radar Bali.id – Antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang seolah belum menemukan titik akhir. Hampir setiap hari, antrean kendaraan kembali mengular.
Baca Juga: IRONI GILIMANUK-KETAPANG: Sisi Gilimanuk Mulai Lengang, di Ketapang Antrean Mengular 8,5 KM
Sopir angkutan logistik pun menjadi kelompok yang paling merana menanggung dampaknya.
Baca Juga: CEK FAKTA : Akses Pelabuhan Ketapang Sempat Lumpuh 5 Jam, Demo Sopir Berujung 8 Poin Kesepakatan
Sekjen Gerakan Aliansi Pengemudi Bali (Gapiba) Sugiartoyo mengatakan, antrean salah satunya dipicu berkurangnya kapasitas pelayanan setelah Dermaga 2 Gilimanuk menjalani perbaikan. Menurutnya, pengurangan fungsi dermaga semestinya diantisipasi sejak awal dengan penambahan sarana dan prasarana penyeberangan.
”Kalau dermaga berkurang, otomatis kapasitas angkutan penyeberangan juga berkurang. Sementara kendaraan terus bertambah,” ujar Sugiartoyo.
Kondisi tersebut membuat waktu tempuh sopir tidak lagi bisa diprediksi. Sugiartoyo menyebut, para sopir bahkan bisa terjebak antrean hingga 24 jam. Dampak paling berat dirasakan kendaraan logistik yang harus mengejar target waktu pengiriman barang.
Persoalannya bukan sekadar waktu yang terbuang. Lamanya antrean ikut menggerus pendapatan sopir secara signifikan. Dengan ongkos yang diterima sesuai jarak tempuh, biaya operasional harus tetap ditanggung meski kendaraan berjam-jam tidak bergerak.
”Dengan biaya operasional yang ada, akhirnya cukup untuk biaya hidup di jalan saja. Tidak ada yang bisa dibawa pulang untuk keluarga,” ungkapnya miris.
Menurut Sugiartoyo, kondisi pelik di lapangan kerap tidak menjadi pertimbangan perusahaan angkutan. Sopir tetap dituntut memenuhi target perjalanan, sementara persoalan antrean berada di luar kendali mereka.
”Ongkosnya macam-macam, tergantung jarak. Tapi dengan kondisi sekarang jelas tidak cukup. Jarang bos mau tahu kondisi riil yang dialami sopir di jalan,” katanya.
Guna mengurai benang kusut ini, Gapiba mendorong penambahan kapal, khususnya di lintasan Landing Craft Machine (LCM). Sugiartoyo menyebut, pada periode sebelumnya jumlah kapal yang melayani Dermaga LCM jauh lebih banyak. Tepatnya sebelum Dermaga 4 Gilimanuk digunakan, terdapat sekitar 12 kapal di Dermaga Gilimanuk.
”Sekarang kami sedang berkomunikasi dengan BPBD Ketapang. Mudah-mudahan disetujui,” jelasnya.
Selain itu, para sopir meminta penguatan pelayanan di Dermaga MB 4. Sedikitnya empat kapal diharapkan dapat terus diperkuat dengan kapal bantuan. ”Minimal ada tambahan dua kapal bantuan,” tegasnya.
Sugiartoyo berharap pengelola pelabuhan tidak hanya merespons persoalan ketika kepadatan sudah telanjur melumpuhkan arus lalu lintas. Dalam jangka panjang, kapasitas pelabuhan dinilai harus ditambah secara permanen karena pertumbuhan kendaraan tidak sebanding dengan ketersediaan dermaga dan fasilitas penyeberangan.
”Ke depan harus ada penambahan dermaga dan sarana prasarana. Dermaga sekarang kurang banyak, sementara kendaraan semakin membeludak,” tandasnya.
Di sisi lain, General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan, percepatan penguraian antrean membutuhkan pengaturan muatan secara tepat. Sebab, kendaraan yang dilayani memiliki karakteristik berbeda, terutama kendaraan logistik.
“Kami terus mendorong agar proses pelayanan berjalan semakin cepat dan efektif. Namun setiap kendaraan yang masuk ke kapal tetap harus disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik kapal serta ketentuan keselamatan,” jelas Media.
ASDP, lanjut dia, menargetkan antrean terus berkurang dengan tetap menjaga proses pelayanan agar tertib dan aman. Saat kondisi di sisi Gilimanuk relatif terkendali, pola operasi kapal dapat dioptimalkan dari sisi Ketapang. Distribusi kapal dan pola perjalanan disesuaikan secara dinamis berdasarkan kebutuhan di masing-masing sisi lintasan.
Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP mengoperasikan 27 kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk dengan penguatan pola perjalanan hingga delapan trip. Armada tersebut terdiri atas 14 kapal reguler melalui Dermaga MB dan sembilan kapal reguler melalui Dermaga LCM. Selain itu, empat kapal perbantuan Tanjung Balai (TBB) ikut memperkuat layanan, masing-masing satu kapal di Dermaga MB dan tiga kapal di Dermaga LCM.
Percepatan juga dilakukan dengan meningkatkan efektivitas bongkar-muat serta mengatur arus kendaraan sejak berada di kawasan pelabuhan hingga masuk kapal. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kepadatan baru.
ASDP juga terus berkoordinasi dengan regulator, kepolisian, operator kapal, dan pemangku kepentingan lainnya. Monitoring antrean dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi pola perjalanan, distribusi kendaraan, hingga kebutuhan tambahan kapasitas.
Sementara itu, antrean di jalur Denpasar-Gilimanuk masih terlihat mengular pada Rabu, 30 September 2026 (30/9/2026). Namun, kepadatan disebut jauh berkurang dibandingkan kondisi Selasa malam (29/9/2026). [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali