Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Wisatawan Dilarang Mendaki Gunung di Bali, Ini Kata Pemandu di Gunung Agung

Donny Tabelak • Kamis, 2 Februari 2023 | 11:00 WIB
Gunung Agung. (dok radarbali.id)
Gunung Agung. (dok radarbali.id)
AMLAPURA- Rencana Pemprov Bali menjadikan seluruh Gunung di Bali menjadi kawasan suci menuai kekecewaan para pemandu wisata di Gunung Agung, Besakih. Bukan tanpa alasan, karena selama ini para pemandu menyandarkan hidup dari aktivitas wisatawan yang melakukan pendakian.

Ungkapan kekecewaan itu datang dari para pemandu pendaki di Gunung Agung. Seperti yang diungkapkan Koordinator Pendaki Gunung Agung Jalur Pasar Agung, I Wayan Widi Yasa. Kata dia, rencana yang diungkapkan Gubernur Bali, Wayan Koster itu secara tidak langsung membunuh sumber penghasilan para pemandu di Gunung Agung. Rencana itu pun membuat ia dan rekan-rekannya kecewa. “Tidak ada pembicaraan kepada kami para pemandu pendaki terkait rencana itu,” ujarnya Rabu (1/2/2023).

Kondisi tersebut membuat para pemandu waswas. Mengingat dari informasi yang didapat, pendakian ke Gunung hanya diperbolehkan untuk kepentingan upacara dan juga kebencanaan. Sementara untuk pendakian wisatawan akan dilarang. “Padahal itu satu-satunya sandaran hidup kami untuk mencari penghasilan. Kalau itu benar dilarang, kami mau kerja apa lagi,” katanya.

Dampak tersebut sudah dirasakan semua pemandu di Gunung Agung saat aktivitas pendakian ditutup ketika erupsi pada 2017 silam disambung wabah Pandemi Covid-19. Ia merasakan tak ada penghasilan yang didapat selama erupsi hingga pandemi sehingga para pemandu banyak menjadi pekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan. “Kondisi itu kami rasakan sangat berat. Dengan larangan itu tentu tidak ada lagi sumber penghasilan kami. Karena selama ini menjadi ladang kami mencari penghasilan. Baru saja bangkit sudah ada rencana ini,” keluh Widi.

Widi Yasa menambahkan, apabila rencana tersebut benar dilakukan, pihaknya berharap ada kompensasi dari pemerintah. Mengingat selama ini mereka yang tinggal di kaki Gunung Agung bisa hidup dari menjadi pemandu wisata Gunung Agung. “Minimal ada kompensasi kalau rencana itu benar terealisasi,” imbuhnya.

Selama ini, para pemandu saat menjadi pemandu bagi wisatawan yang mendaki Gunung Agung, sudah melakukan pemberitahuan apa saja yang menjadi larangan kepada wisatawan saat melakukan pendakian. Hal itu dilakukan salah satunya untuk menjaga kesucian Gunung Agung sebagai gunung yagg disucikan masyarakat Hindu Bali.

“Sebelum mendaki kami selalu memberi tahu ke pendaki. Apa saja larangannya. Apa saja yang tidak boleh dilakukan. Seperti tidak boleh berkata kasar, tidak boleh membawa daging sapi, bagi wanita yang datang bulan juga dilarang naik. Selama ini kami sudah lakukan itu,” ungkapnya.

Pihaknya sebagai pemandu gunung juga berharap ada koordinasi dan audiensi dari pemerintah dengan perwakilan pemandu gunung terkait rencana tersebut.

Jumlah pemandu yang ada di jalur Pasar Agung saat ini mencapai 131 orang. Jumlah tersebut belum termasuk dengan pendaki dari jalur lain. Seperti jalur pura pengubengan, jalur pura gae, jalur Besakih kawan, dan Dukuh di Kubu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, I Wayan Astika mengakui, rencana tersebut menjadi pilihan yang cukup berat, mengingat Gunung Agung yang ada di Karangasem merupakan salah satu potensi yang sangat luar biasa untuk sektor pariwistaa sama halnya seperti Gunung Rinjani. “Apalagi saat ini tren naik gunung sedang menggeliat. Potensinya cukup besar untuk pariwisata,” kata Astika.

Namun jika berbicara terkait kesucian gunung, lanjutnya,  selama ini pendaki selalu mendapat pendampingan dari masyarakat. “Karena ini menyangkut kesucian, memang harus ada regulasi yang tepat dan ketat agar tidak ada kesucian gunung yang ternoda oleh ulah oknum pendaki yang melanggar,” tandasnya. (zul) Editor : Donny Tabelak
#besakih #gunung agung #pemprov bali #gubernur bali #wayan koster #Pendakian dilarang