Ida Dalem saat dihubungi, Sabtu (20/5) mengaku kerap bertemu pamannya tersebut dalam pertemuan para pengelingsir puri se Bali dan saat Puri Agung Karangasem menggelar hajatan. Dalam pertemuan-pertemuan itu, dia kerap diajak membahas tentang sejarah, kebudayaan dan adat istiadat di Bali. Bahkan menurutnya, komunikasi yang kini erat antara para pengelingsir puri se Bali tidak terlepas dari desakan sang paman.
“Beliau (Anak Agung Gde Putra Agung) yang mendesak saya untuk menyatukan puri-puri yang ada. Sebab sebelum tahun 2009, puri-puri yang ada belum terjadi komunikasi yang intensif. Setelah kami menggelar rapat atas desakan beliau dengan beberapa pengelingsir puri yang lain sehingga akhirnya kami semua bertemu di Klungkung,” kenangnya.
Sehingga saat mendengar sang paman meninggal dunia, dia mengaku sangat kehilangan. Dia berharap penerus Puri Agung Karangasem dapat mewariskan sifat-sifat sang paman yang merupakan sosok bersahaja, dan tegas dalam menerapkan tradisi adat istiadat Bali. “Beliau merupakan orang yang sabar. Tetapi beliau sangat tegas dalam menerapkan aturan adat istiadat,” ungkapnya.
Meski telah mendengar sang paman meninggal dunia, dia mengaku belum melayat ke rumah. Dia baru akan melayat setelah pihak Puri Agung Karangasem mengabarkan secara langsung meninggalnya sang paman ke Puri Agung Klungkung. “Setelah mendapat kabar pasti, baru kami akan melayat,” jelasnya.
Sementara itu, menantu Pengelingsir Puri Agung Karangasem, Anak. Agung Made Kosalia mengungkapkan, pelebon sang mertua akan digelar pada 30 Juni 2023. Rencananya, bade tumpang sembilan akan digunakan dalam prosesi tersebut. “Masalah pakai Naga Banda atau tidak, kami masih menunggu keputusan hasil rapat besok (hari ini),” terangnya.
Kosalia menuturkan, Anak Agung Gde Putra Agung merupakan keturunan raja Karangasem. Sang mertua merupakan putra kesembilan dari 10 putra sang raja. Menurutnya, mendiang adalah putra keturunan raja yang meninggal paling terakhir di usia 88 tahun. Pengelingsir Puri Agung Karangasem yang menghembuskan nafas terakhirnya dalam perawatan di Wing Amerta, RSUP Prof dr. I.G.N.G Ngoerah Kamis (18/5) pukul 04.16 itu meninggalkan tiga anak perempuan, empat cucu, dan satu cicit.
Mendiang di mata keluarga merupakan sosok orang tua yang penyayang. Sementara di Puri Agung Karangasem sendiri, beliau merupakan pengelingsir yang bijak, berpikir secara ilmiah, dan merupakan panutan. “Banyak sebagai panutan di kampung-kampung muslim di Karangasem,” katanya. (ayu/rid) Editor : M.Ridwan