AMLAPURA, Radar Bali.id- Petani garam di Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu memilih beralih pekerjaan selama musim hujan ini. Mereka memilih bercocok tanam lantaran produksi garam terhambat cuaca.
Kepala Desa Baturinggit, I Gede Putu Telantik mengakui, petani garam di Desa Baturinggit merupakan petani musiman. Seperti saat musim hujan ini, sebagian warganya yang menggeluti usaha produksi garam memilih bercocok tanam.
"Kebanyakan beralih bercocok tanaman. Nanti saat kemarau, lagi menjadi petani garam," kata Telantik, Minggu (4/2/2024).
Kondisi ini kata dia merupakan hal yang lumrah. Mengingat saat musim hujan, produksi garam tidak bisa dilakukan. Padahal kata dia, kualitas produksi garam Desa Baturinggit cukup bagus sehingga memiliki harga jual tinggi.
"Waktu tahun 2023 lalu harga jual ke tengkulak mencapai Rp 10 ribu per kilo. Tapi saat banjir produksi sempat turun menjadi Rp 6 ribu," tuturnya.
Ada dua kelompok petani yang selama ini memproduksi garam di wilayah Desa Baturinggit dengan menggunakan sistem tradisional. Anggota kedua kelompok tersebut berjumlah 20 orang. Dalam waktu satu minggu, satu orang petani mampu menghasilkan 1 sampai 1,5 kuintal garam.
Karena kualitasnya yang dianggap cukup bagus, ada sejumlah perusahaan yang melirik. Saat ini produk garam warga Desa Baturinggit, sedang dalam proses pengujian lab oleh salah satu perusahaan yang sedang menjajaki kerja sama.
"Semoga hasilnya positif. Sehingga peningkatan ekonomi di tingkat petani bisa meningkat," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita