AMLAPURA, Radar Bali.id- Kebutuhan jenis udang galah untuk sektor pariwisata di Kabupaten Karangasem belakangan cukup tinggi.
Sayangnya, tingginya permintaan udang galah tak sebanding dengan ketersediaan bibit. Peternak sangat sulit mendapatkan bibit udang galah di Karangasem.
Hal itu diungkapkan salah seorang peternak udang galah asal Banjar Dinas Saren Kauh, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem I Wayan Kertiyasa.
Dia mengaku kesulitan mendapatkan bibit udang galah di Karangasem sejak pandemi covid-19 hingga saat ini. "Langka dan susah sekali cari bibitnya," katanya Selasa (19/3/2024).
Dia menambahkan, sempat mendapat bibit udang galah dari pihak swasta beberapa waktu lalu. Namun ia harus membeli dengan harga jauh lebih mahal ketimbang membeli di balai benih. "Sudah mahal, itupun sulit sekali mendapatkan," tuturnya.
Atas kondisi itu, sekitar 14 hektare kolam peternakan udang galah mangkrak. Selama ini, para pembudidaya memilih membiarkan kolam kosong.
Baca Juga: Bekas Tambak Udang Direhabilitasi, Mulai Ditanami Mangrove
"Kalau mau beralih ke peternakan ikan jenis lain, kesulitan. Mulai dari pemeliharaan, pemasarannya dan nilai ekonomi yang dihasilkan," bebernya.
Selama ini, para pembudidaya mendapatkan bibit dari Balai Benih Udang Galah Provinsi Bali di Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.
Namun sejak pandemi bibit tersebut sulit diperoleh dengan alasan gagal pembibitan, anggarannya tidak ada hingga alasan perbaikan.
Selama ini pembudidaya diminta menunggu, namun tidak ada kejelasannya selama empat tahun belakangan. "Saya harap pemerintah dapat merespon nasib kami sebagai pembudidaya. Sampai kapan seperti ini, permintaan banyak tapi kami sulit mendapatkan bibit," tandasnya.
Hal yang sama juga diungkapkan peternak udang galah lainnya yakni I Kadek Sukerta, sejak lama kolam miliknya kosong hingga dipenuhi tanaman liar.
"Selama ini kami mendistribusikan udang galah ke pasar ikan Kedonganan dan suplier. Sejak bibit langka, otomatis penyaluran terhenti," tukasnya. [*]
Editor : Hari Puspita