Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Wamen Pariwisata Apresiasi Gerakan Wisata Bersih, Edukasi Pengelolaan Sampah yang Efektif di Destinasi Mulai dari Desa Adat

M.Ridwan • Sabtu, 23 November 2024 | 12:00 WIB
KOLABORASI: Olivia Padang, perwakilan konsorsium Proyek Sukla yang juga founder BWC saat sambutan Edukasi pengelolaan sampah yang efektif di Balai Desa Adat Besakih, 21 November 2024
KOLABORASI: Olivia Padang, perwakilan konsorsium Proyek Sukla yang juga founder BWC saat sambutan Edukasi pengelolaan sampah yang efektif di Balai Desa Adat Besakih, 21 November 2024

KARANGASEM, radarbali.jawapos.com- Aktivitas peradaban selalu menghasilkan sampah. Kolaborasi GoTo Impact Foundation (Project Catalyst Changemakers Ecosystem ) melalui Konsorsium Sukla Project bersama Bali Waste Cycle, Rebricks, dan Wastehub®, menginisasi langkah aksi nyata lingkungan bersih dan sehat.

Langkah ini diawali dari masyarakat Desa Adat Besakih dan Menanga untuk menciptakan desa yang bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah terpadu dalam rangka menjaga lingkungan Bali sehingga membuat ekonomi sirkular hijau menjadi nyata.

Selain bersama GoTo Foundation dan Konsorsium Sukla Project kolaborasi kali ini juga dilaksanakan hasil kolaborasi Dinas Provinsi Bali, Dinas Kabupaten Karangasem, Pemerintah Desa Besakih, Pemerintah Desa Menanga, Media, dan stakeholder lainnya.

Kemenpar RI mendukung Proyek Sukla setelah beberapa bulan lalu meninjau langsung perkembangannya di Desa Besakih.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Hariyanto, mengapresiasi GoTo Impact Foundation (Project Catalyst Changemakers Ecosystem ) melalui Konsorsium Sukla Project. “Acara ini sejalan dengan agenda program quick wins Kementerian Pariwisata tahun 2024: Road to Gerakan Wisata Bersih, Melalui Edukasi Pengelolaan Sampah yang Efektif di Destinasi Pariwisata Menuju Desa Adat Bersih dan Sehat”

Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, mengapresiasi Proyek Sukla karena sejalan dengan agenda nasional desa adat bersih dan sehat.

LANGSUNG AKSI: Praktik pembuatan lubang untuk produksi kompos dari sampah organik.
LANGSUNG AKSI: Praktik pembuatan lubang untuk produksi kompos dari sampah organik.

“Dari proyek kolaborasi ini, kami melihat bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak inisiatif seperti ini agar kita bersama-sama bisa memajukan bangsa. Semoga kolaborasi lintas sektor yang benar-benar

melibatkan dapat menjadi contoh bagi desa adat lainnya di Indonesia”.

Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pemilahan sampah dan dampaknya bagi kader bank sampah dan Masyarakat, serta meningkatkan keterampilan membuat produk ramah lingkungan yang mendukung operasional TPS3R. Kegiatan kali ini dihadiri 80 peserta yang terdiri dari Kader banksampah potensial di Desa Adat Besakih & Desa Adat Menanga; Tokoh masyarakatdesa (Kelian Banjar); Masyarakat umum perwakilan banjar, serta talenta muda mahasiswa magang di Desa Besakih.

Sementara itu Olivia Padang, perwakilan konsorsium Proyek Sukla menjelaskan, sejauh ini pengolahan sampah di TPS3R Palak telah meningkat dan mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan.

Sampah diolah menjadi RDF, produk ramah lingkungan, dan kompos. ”Kami juga telah menjalankan edukasi kepada 2.281 keluarga, namun kami masih menemukan tantangan dalam mengajak masyarakat untuk lebih aktif terlibat, karena solusi ini harus menjadi milik bersama,” tegas Olivia.

“Selain tantangan, juga ada peluang baru dari dukungan Kemenpar RI untuk mendorong kesadaran masyarakat agar terlibat lebih aktif,” tukasnya.

Untuk menyelesaikan masalah bersama, inovasi perlu datang dari masyarakat dan dijalankan oleh masyarakat. Sehingga bukan hanya pihaknya dan pemerintah sebagai penggagas proyek yang menjalankan.

”Proyek ini juga mulai memperluas jangkauan ke Desa Menanga, yang dihuni oleh lebih dari 7.000 warga namun belum memiliki pengelolaan sampah yang optimal,” sebut Olivia.

Acara Road to Gerakan Wisata Bersih, Melalui Edukasi Pengelolaan Sampah yang Efektif di Destinasi Pariwisata Menuju Desa Adat Bersih dan Sehat berisi kegiatan pelatihan menggabungkan penyampaian materi dan diskusi terkait pendirian dan pengelolaan bank sampah, praktik langsung pemilahan jenis sampah dan pembuatan roster dari sampah plastik residu, studi kasus dari pengelolaan sampah di desa lain di sekitar Desa Besakih, dan evaluasi lewat tugas kelompok. Output yang diharapkan Terbentuknya kader bank sampah yang kompeten min 70% dari total banjar di Desa Adat Besakih & Desa Adat Menanga sekaligus sebagai Satgas Gerakan Wisata Bersih Level Desa, peningkatan kesadaran pengelolaan sampah, dan

penciptaan produk ramah lingkungan dari sampah sehingga menambah sumber pemasukan.

Proyek Sukla hasil kolaborasi Bali Waste Cycle, Rebricks, dimulai pada November 2023. Diawali dengan Nota Kesepahaman kerjasama antara Kementerian Pariwisata dengan GoTo Impact Foundation melalui Program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 2.0.

Program tersebut merupakan salah satu upaya akselerasi pembangunan yang tangguh menghadapi perubahan iklim dengan cara memobilisasi agen-agen perubahan, pendanaan, pengetahuan dan keahlian untuk berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia. Melalui program CCE tersebut, pada tahun 2023 telah terpilih 3 lokasi proyek percontohan

yaitu: (1) Desa Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali; (2) Kabupaten Samosir, Sumatra Utara; dan (3) Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dan telah melaksanakan implementasi program di tahun 2024.

Kemudian pada tahun 2024, P rogram Catalyst Changemakers Ecosystem CCE 3 .0 telah selesai melaksanakan kontestasi (CCE), yaitu : (1) Kabupaten Belitung, Bangka Belitung; (2) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah; (3) Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat; dan (4) Kabupaten Malang, Jawa Timur yang akan mengimplementasikan program di tahun 2025. Pengalaman GIF selama ini menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat adalah kunci dalam menyelesaikan permasalahan secara tepat.

Chairperson GoTo Impact Foundation, Monica Oudang menekankan, GIF berkomitmen untuk terus

mencari cara yang lebih efektif dalam melakukan perubahan sistemik.

”Lewat CCE, kami menyatukan startup, organisasi nonprofit, dan berbagai pemangku kepentingan untuk berinovasi bersama agar solusi yang dihasilkan memberikan manfaat nyata, termasuk bagi masyarakat lokal,” tegasnya.

Proyek Sukla ini juga menggandeng BUMDesa Dharma Artha Basuki Desa Besakih, berpusat di TPS3R Palak untuk menangani masalah sampah melalui penerapan ekonomi sirkular.

Pendekatan yang digunakan meliputi pengumpulan sampah, produksi RDF, pembuatan produk ramah lingkungan, serta edukasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat.***

Editor : M.Ridwan
#sehat #desa adat #Kementerian Pariwisata #rebricks #sampah #Bali Waste Cycle #GoTo Impact Foundation #bersih