Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Perpaduan Tradisi dan Inovasi Gamelan Bali: Gamelan Yuganada Hadirkan Musik Fraktal di Festival MI-RENG 2025

Rosihan Anwar • Selasa, 5 Agustus 2025 | 18:01 WIB
Photo
Photo

GIANYAR, radarbali.jawapos.com - Festival MI-RENG: New Music for Gamelan kembali digelar dengan semangat pembaruan terhadap musik tradisional Bali.

Salah satu konser unggulan dalam rangkaian festival ini menghadirkan kelompok musik Gamelan Yuganada, yang akan tampil pada Selasa, 5 Agustus 2025 bertempat di Gedung Unit 1 KG Ketewel, Gianyar, mulai pukul 17.00 WITA.

Konser ini menjadi bagian dari Concert Series Festival MI-RENG, program yang diselenggarakan dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Dengan tema "Mendengar Dalam Diam," festival ini mendorong eksplorasi musikal melalui pendekatan kontemporer terhadap gamelan.

Gamelan Yuganada, kelompok gamelan asal Ubud yang dikenal inovatif, akan membawakan dua karya berjudul “Banang I” dan “Banang II”, masing-masing berdurasi 14 dan 10 menit.

Kedua komposisi ini merupakan hasil karya komponis kenamaan I Wayan Sudirana, yang terinspirasi dari konsep fraktal, yakni pola geometris kompleks yang berulang.

Dalam konteks musikal, fraktal diterjemahkan menjadi motif-motif ritmis dan melodis yang merepresentasikan self-similarity di berbagai skala.

"Banang" memanfaatkan prinsip pengulangan dan kesamaan pola sebagai dasar pengembangan struktur musikal. Empat pola sederhana dikembangkan secara rekursif dan iteratif, membentuk satu kesatuan musikal yang kontemplatif.

Komposisi ini menghadirkan pengalaman mendengarkan yang dalam, reflektif, dan sekaligus eksperimental.

Didirikan pada tahun 2015 oleh I Wayan Sudirana, Gamelan Yuganada beranggotakan musisi muda dari Ubud dan sekitarnya.

Nama “Yuganada” diambil dari kata “Yuga” yang berarti zaman atau siklus, dan “Nada” yang dalam aksara Bali bermakna bunyi sekaligus simbol api.

Secara filosofis, Yuganada merepresentasikan siklus bunyi masa kini—nyala harapan generasi baru yang menjaga api kreativitas gamelan Bali.

Sejak awal berdirinya, Gamelan Yuganada telah tampil di berbagai panggung bergengsi nasional dan internasional. Di antaranya:

- World Samulnori Competition, Chilgok, Korea Selatan (2015)

- Kaleidoscope Drumming Nation, Kuala Lumpur, Malaysia (2016 & 2024)

- Single Performance, Ciputra Entrepreneur Jakarta (2016)

- Hundred Percent Club, BNDCC Nusa Dua, Bali (2017 & 2018)

- Best of IBM, BNDCC Nusa Dua Bali (2019)

- George Town Festival, Penang, Malaysia (2019)

- Bali Jani Arts Festival, Denpasar (2019)

- Festival Taksu, Denpasar (2019)

- Kolaborasi Perkusi Tangan, Kuala Lumpur (2019)

- Taksu Ubud, bersama Titimangsa Foundation (2021)

- Sudamala: From Clonarang Epilogue, Titimangsa Foundation (2022 & 2023)

- Hongkong Cosmopolis Festival (2022)

- Cine-Concert Samsara, kolaborasi bersama Cirenia Film & Garin Workshop (2024 hingga sekarang)

Selain tampil di panggung festival dan pertunjukan teater, Gamelan Yuganada juga tetap aktif mempertunjukkan musik tradisional di berbagai pura di Bali, menjaga keberlanjutan adat dan tradisi secara langsung di masyarakat.

Mereka telah merilis lima album yang tersedia di Spotify dan platform musik lainnya:

- Geguntungan (2019)

- Musik Baru untuk Gamelan (2019)

- Taksu, Karya Baru untuk Gamelan (2020)

- Pejati: Persembahan Wayan Sudirana (2021)

- Proses (2022)

- Gending Penyalonarangan Sudamala (2024)

- Pesu Mulih (2025)

I Wayan Sudirana, kelahiran Ubud tahun 1980, merupakan sosok sentral dalam perkembangan musik gamelan kontemporer Bali. Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tahun 2002 ini melanjutkan studi pascasarjana di University of British Columbia, Kanada, dan meraih gelar Master of Arts (2009) serta Doctor of Philosophy (2013).

Ia mendirikan berbagai kelompok seni, termasuk:

- Yayasan Cudamani (1998)

- Chandra Wirabhuwana Ubud (1999)

- Cenik Wayah Ubud (2000)

- JingGong, grup eksperimental yang memadukan musik Bali dan Korea. JingGong meraih juara dalam World Samulnori Competition, Korea Selatan (2015).

Sudirana aktif tampil di panggung internasional seperti Carnegie Hall (New York, Esplanade (Singapura), KLPac (Malaysia), dan The Chan Center (Kanada).

Ia juga kerap berkolaborasi dengan seniman dunia seperti Michael Tenzer dan Colin McDonald, dan menciptakan berbagai karya eksperimental seperti:

- Arakok

- Navadaza (untuk gamelan Gita Asmara, Kanada)

- Marathonologue (kolaborasi gamelan, Highland Bagpipes, dan Taiko)

- Kasus Tiga (konser New Music for Gamelan)

Atas kontribusinya dalam musik, Sudirana baru-baru ini menerima Piala Citra Festival Film Indonesia 2024 sebagai Penata Musik Terbaik.

Dengan pendekatan lintas budaya, ia terus menelusuri identitas baru bagi musik gamelan kontemporer Indonesia.

Festival MI-RENG sendiri merupakan platform pertemuan para seniman dan komponis yang menjelajahi batas-batas baru dalam musik gamelan.

Dengan misi menghadirkan karya-karya eksperimental tanpa meninggalkan akar tradisi, festival ini menjadi ruang inovatif untuk menantang persepsi publik terhadap gamelan Bali.

Editor : Rosihan Anwar