KARANGASEM, Radar Bali.id – Sebuah momen bersejarah tercipta saat upacara penyineban (penutupan) pujawali tahunan di Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh Sakti, di kompleks Pura Agung Besakih, Kamis (9/10/2025) lalu.
Untuk pertama kalinya, upacara yang berlangsung sejak 6 Oktober 2025 itu dipuput (dipimpin) oleh tiga sulinggih dari klan berbeda, menjadi simbol nyata bersatunya Pasemetonan Catur Lawa di Bali.
Upacara penyineban ini dipuput oleh tiga tokoh spiritual utama: Ida Pandita Dukuh, Sri Mpu Pande, dan Sri Mpu Pasek. Kehadiran ketiga sulinggih ini sekaligus diupasaksi (disaksikan) langsung oleh para penglingsir (sesepuh) Catur Lawa.
Sejarah Bersatunya Catur Lawa
Ketua Umum Pasemetonan Dukuh Bali yang baru, Made Beru Suryawan, mengungkapkan rasa haru dan bangganya. Ia menyebut momen pujawali tahun ini sebagai tonggak sejarah baru.
“Ini menjadi sesuatu yang luar biasa, untuk pertama kalinya dalam sejarah pujawali Catur Lawa Ida Ratu Dukuh Sakti dipuput oleh tiga Sulinggih. Ini adalah simbol bersatunya Catur Lawa,” ujar Beru Suryawan saat dikonfirmasi, Jumat (10/10/2025).
Momen penting ini turut dihadiri oleh penglingsir serta pengurus Sabha Catur Lawa, termasuk Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa, yang juga merupakan penglingsir dari Pasemetonan Pandu Prapanca Lagosa.
Tarian Rejang Empat Warna dan Dukungan Pemerintah
Nuansa persatuan Catur Lawa (Dukuh, Pasek, Pande, dan Penyarikan) semakin kental dalam rangkaian penyineban. Upacara diiringi dengan pementasan Tari Rejang Renteng di mana para penari mengenakan busana yang mewakili empat unsur warna berbeda: merah (Pande), hitam (Dukuh), putih (Pasek), dan kuning (Penyarikan).
Beru Suryawan berharap momen ini bukan sekadar seremoni. “Harapan kami momen ini menjadi ajang bersatunya Catur Lawa, agar ke depan tidak hanya antar penglingsir melainkan juga antar krama (warga) bisa saling mendukung,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Karangasem atas dukungan nyata terhadap pelaksanaan karya suci ini. Dukungan Pemkab Karangasem diberikan dalam bentuk punia (dana) yang diserahkan langsung oleh Asisten I, I Wayan Purna, mewakili Wakil Bupati.
“Dukungan ini menjadi bentuk nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat dalam menjaga tradisi leluhur,” tutup Beru Suryawan.[*]
Editor : Hari Puspita