Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Kelompok Nelayan Labuhan Amuk yang Berhasil Menghidupkan Kembali Terumbu Karang Seluas 4 Km Persegi

Marsellus Nabunome Pampur • Rabu, 22 Oktober 2025 | 19:15 WIB
PENUH LIKU-LIKU: Mantan Ketua Kelompok Tirta Segara, I Ketut Mangku Latra (kanan) bersama ketua Kelompok Tirta SegaraWayan Totong (tengah) dan anggota.( Foto: Marsellus Pampur)
PENUH LIKU-LIKU: Mantan Ketua Kelompok Tirta Segara, I Ketut Mangku Latra (kanan) bersama ketua Kelompok Tirta SegaraWayan Totong (tengah) dan anggota.( Foto: Marsellus Pampur)

 

Bertahun-tahun lalu, Pantai Labuhan Amuk di Desa Antiga, Manggis, Karangasem, identik dengan suara mematikan bom ikan dan racun potasium. Aktivitas illegal fishing yang masif membuat ikan dan terumbu karang di kawasan ini binasa, meninggalkan laut yang sepi dan rusak.

KISAH kelam itu kini telah berubah total. Berkat konsistensi perjuangan warga lokal, populasi ikan di Labuhan Amuk kini melimpah, dan kawasan ini bertransformasi menjadi area konservasi terumbu karang seluas 4 kilometer persegi serta tujuan wisata snorkeling yang ramai.

Perubahan ini dimulai pada tahun 2014, ketika masyarakat setempat akhirnya sepakat membentuk kelompok pengawas bernama Kelompok Masyarakat Tirta Segara.

Mantan Ketua Tirta Segara, I Ketut Mangku Latra, mengenang kesulitan awal mereka. "Sebelum membentuk kelompok ini, kami beberapa kali menangkap sendiri para pelakunya. Kami serahkan ke polisi, tapi akhirnya tak bisa ditindak karena minimnya barang bukti. Sehingga setelahnya kami sepakat membentuk kelompok ini," kata Mangku Latra di Pantai Amuk, Selasa (21/10/2025).

Sejak itu, 50 anggota Kelompok Tirta Segara rutin berpatroli laut dan aktif melakukan revitalisasi terumbu karang di empat desa sekitarnya.

Konservasi Karang yang Penuh Tantangan

Ketua Tirta Segara saat ini, Wayan Totong, menyebut upaya konservasi tidaklah mudah. Dari bibit karang yang ditanam, hanya sekitar 30 persen yang memiliki peluang hidup.

"Proses perawatan terumbu karang usai tanam tak semudah menanam rumput laut. Yang mati ini akan dicabut kembali dan dibawa ke bank khusus untuk direhabilitasi," jelas Totong.

Berkat upaya mereka, saat ini sudah terdapat kurang lebih 15 jenis terumbu karang di area konservasi. Bibit-bibit karang ini didapat dari jenis asli, sumbangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bahkan hasil sitaan petugas yang ditanam kembali.

Memanen Hasil: Dari Bom Ikan ke Wisata Mancing

Setelah lebih dari satu dekade upaya konservasi, hasilnya kini terasa manis. Populasi ikan di kawasan ini melimpah ruah, membuka potensi ekonomi baru bagi warga.

Masyarakat Labuhan Amuk kini memanfaatkan potensi ini dengan membuka wisata mancing di sekitar pantai. Selain itu, keindahan terumbu karang yang kembali pulih menjadikan pantai ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik yang tertarik untuk snorkeling.

Sayangnya, Wayan Totong menyoroti minimnya fasilitas pendukung di kawasan tersebut. "Faktor penunjang masih belum mendukung, seperti penginapan, restoran, counter diving belum ada. Masih agak susah," pungkas Totong, berharap potensi alam yang telah mereka pulihkan ini segera diikuti dengan pengembangan infrastruktur pariwisata.[*]

Editor : Hari Puspita
#snorkeling #pelestarian alam #terumbu karang #karangasem #konservasi