Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pertama Dalam Sejarah, Karya Agung di Pura Penataran Temaga - Kerta Buana - Karangasem "Menyala" dalam Semangat Ngayah

Rosihan Anwar • Kamis, 6 November 2025 | 00:55 WIB
Puncak Karya Agung di Pura Penataran Temaga, Desa Kertabuana, Sidemen, Karangasem, Rabu (5/11/2025).
Puncak Karya Agung di Pura Penataran Temaga, Desa Kertabuana, Sidemen, Karangasem, Rabu (5/11/2025).

KARANGASEM, radarbali.jawapos.com – Banjar Adat Temaga, Desa Kerta Buana, Kecamatan Sidemen, Karangasem, mengukir sejarah baru. 

Untuk pertama kalinya, warga menggelar Karya Agung Tawur, Memungkah, Pedudusan Agung, Mendem Pedagingan, serta Ngusaba Nini di Pura Penataran Temaga. 

Rangkaian upacara suci ini dimulai sejak 21 Oktober dan berpuncak Rabu (5/11/2025), bertepatan dengan Purnama Kelima.

Karya agung yang disebut Yadnya Bakti Bersama ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Rai Tianyar dari Griya Menara Sidemen, dengan Tapini Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Cang Apit Sidemen. 

Photo
Photo

Seluruh prosesi yadnya dipimpin oleh Pengerajeg Karya, I Wayan Sumatra, S.T., bersama struktur pelaksana: Baga Parahyangan (Jro Mangku Widi), Baga Pawongan (I Nengah Sukra), dan Baga Palemahan (I Wayan Kenak), serta koordinator baga: Komang Edi Tresna, Wayan Angga Sudiartama, S.E., I Wayan Netra Suparsana SE, I Wayan Sutama, Komang Gita, Jro Mangku Ngurah, Nengah Mustika, Ketut Gadung, dan Wayan Subagia, I Wayan Sugina 

“Rencana karya ini sudah digagas sejak 2018. Awalnya hendak dilaksanakan 2019, tapi tertunda karena pandemi. Kini akhirnya bisa terwujud berkat kekompakan dan semangat ngayah krama Banjar Adat Temaga,” ujar I Wayan Sumatra, selaku Pengerajeg Karya.

Sumatra menegaskan, seluruh pelaksanaan yadnya ini murni bersumber dari swadaya dan rasa bakti bersama warga. Semua berjalan karena rasa tulus dan gotong royong yang menghidupkan semangat kebersamaan masyarakat Temaga.

 “Kami ngayah tanpa pamrih. Tidak ada batas antara panitia dan pemedek, semua bergerak karena rasa bakti. Yang kami jaga bukan kemegahan, tapi makna suci dan satya terhadap leluhur,” imbuhnya.

Pelaksanaan karya juga berlandaskan pada tiga bentuk Ngusaba Nini yang menjadi tradisi khas masyarakat Temaga: Ngusaba Nini Goreng, Ngusaba Nini Jerimpen, dan Ngusaba Nini Lalab. Ketiganya melambangkan siklus kesuburan alam dan rasa syukur manusia atas anugerah bumi.

Dalam filosofi lokal, Nini dimaknai sebagai lambang ibu pertiwi, sumber kehidupan yang patut dipuja dan dijaga melalui yadnya tulus dan berkesinambungan.

“Tiga jenis Ngusaba Nini itu menggambarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Semua menjadi dasar karya ini, agar hidup tetap subur, damai, dan selaras,” terang Sumatra.

Di sela prosesi suci, suasana pura semakin hidup dengan pementasan tarian sakral Nyutri tarian yang hanya dipentaskan di Pura Penataran Temaga.

Tari ini merupakan wujud persembahan suci wali, diwariskan turun-temurun dan diyakini sebagai simbol penyucian serta pemanggilan keseimbangan energi alam semesta. 

Pementasan tarian Nyutri menjadi daya spiritual tersendiri yang menegaskan kekhasan Pura Penataran Temaga.

"Tarian sakral nyutri adalah tariaan ketika Ida betara tedun mececingak atau melilacita dengan gambelan sakral, keindahan tarian tersebut menggambarkan suka cita kesejahteraan," imbuhnya 

Di balik kemegahan upacara, Pura Penataran Temaga juga memancarkan daya tarik tersendiri melalui arsitektur kunonya. 

Beberapa bangunan masih mempertahankan bentuk asli dengan bahan batu padas dan ukiran klasik khas Bali Kuno. 

Restorasi dilakukan hati-hati tanpa mengubah struktur awalnya, menjadikan pura ini saksi sejarah perjalanan spiritual masyarakat setempat.

“Kami berharap lembaga terkait, baik pemerintah atau arkeologi dan akademisi dapat membantu mengkaji, meneliti warisan/heritage/peninggalan pendokumentasian artsitektur sehingga kami bisa mengetahui sejarah pura di masa yang lalu Pura Penataran Temaga,” kata Sumatra.

Bagi krama Banjar Adat Temaga, yadnya ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol kebangkitan guyub ngayah spirit yang diwariskan leluhur dan menjadi napas kebudayaan Bali sejati.

"Dari semangat inilah, masyarakat Temaga kembali menyalakan bara kebersamaan bahwa kekuatan adat hidup bukan karena bantuan besar, melainkan karena ketulusan hati yang menyatu dalam satu bakti," pungkas Sumatra dengan nada haru.

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#ritual umat hindu