Ini jurus jitu yang cukup efektif membantu warga yang sedang berduka. Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, punya cara tersendiri untuk meringankan beban warganya yang mengurus kematian keluarga. Desa adat di Kecamatan Karangasem, Kabupaten, Karangasem, ini punya program dana abadi yang kini sudah bisa dinikmati seluruh warga.
GAGASAN itu sudah dipraktikkan belasan tahun silam. Bendesa Adat I Nengah Suarya mengatakan, program dana abadi tersebut diperuntukkan bagi warga di sana yang sedang berduka.
”Program ini sudah ada sejak 2006. Jadi proses kremasi hingga ngaben digratiskan,” ucapnya ditemui belum lama ini.
Bagaimana bisa punya dana banyak untuk itu? Ternyata awalnya program tersebut digagas dengan menyepakati setiap kepala keluarga (KK) menyisihkan dana sebesar Rp 1 juta. Ya, Rp 1 jutaan saja tiap rumah.
Selanjutnya, dana yang terkumpul disimpan di LPD Dukuh Penaban sebagai dana abadi. ”Jadi dana itu tidak boleh ditarik dan menjadi bagian dari modal LPD,” bebernya.
Dari dana awal tersebut kemudiam terkumpul sekitar lebih dari Rp 500 jutaan. Terkumpul dana setengah miliar. Dana ini lantas didepositokan ke LPD.
”Nah, dari deposito itu mendapat bunga. Bunga ini yang dipakai membiayai upacara kremasi atau ngaben bagi krama yang meninggal dunia,” jelas Suarya.
Awalnya, fasilitas yang disediakan hanya berupa kompor kremasi sederhana, namun kini telah berkembang lengkap dengan banten (sarana upakara), sesari untuk pemangku, serta semua kebutuhan pelaksanaan upacara.
”Warga yang berduka hanya perlu melapor ke bendesa adat. Semua prosesi akan ditanggung desa adat,” imbuhnya.
Suarya menambahkan bahwa tujuan utama Desa Adat Dukuh Penaban melalui program ini, untuk memproteksi warga adat serta meringankan beban keluarga yang sedang berduka.
”Dengan adanya dana abadi ini, warga tidak perlu lagi bingung mencari biaya atau kesana kemari ketika menghadapi kedukaan. Bahkan jika desa menghadapi situasi mendesak, dana ini juga bisa membantu pelaksanaan upacara adat (aci),” tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita