AMLAPURA, RadarBali.id– Angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda pesisir Timur Bali sejak awal tahun 2026 memaksa para nelayan di Kabupaten Karangasem untuk berhenti melaut.
Cuaca buruk ini membuat Selat Lombok menjadi medan yang berbahaya bagi perahu-perahu kecil milik warga.
Di Ujung Pesisi, Desa Tumbu, aktivitas melaut lumpuh total selama beberapa hari terakhir. Rahman, salah seorang nelayan setempat, menuturkan bahwa ketinggian gelombang rata-rata mencapai 1,5 hingga 2 meter, yang dianggap sangat berisiko bagi keselamatan jiwa.
Isi Waktu dengan Perbaikan Alat
Alih-alih melaut, para nelayan memilih menghabiskan waktu di darat dengan memperbaiki perlengkapan tempur mereka. "Daripada memaksakan diri yang berujung bahaya, kami pilih memperbaiki jaring, memperbaiki jukung (perahu), dan mengecek kondisi mesin," ujar Rahman pada Senin (5/1/2026).
Meski mayoritas memilih libur, Rahman mengaku ada satu-dua rekannya yang nekat melaut demi memenuhi kebutuhan perut, meski risiko nyawa menjadi taruhannya.
Harga Ikan di Pasaran Melonjak
Kondisi nelayan semakin terjepit. Selain faktor cuaca, populasi ikan di laut Karangasem dilaporkan terus menyusut. Rahman menceritakan rekannya yang sempat melaut hanya membawa pulang 10 ekor ikan, jumlah yang jauh dari kata cukup untuk menutupi biaya operasional bahan bakar.
Ironisnya, di saat pasokan ikan minim, harga ikan di pasar justru sedang meningkat tajam. "Harapannya tentu cuaca segera membaik agar kami bisa kembali mencari nafkah, apalagi harga ikan sekarang lagi bagus-bagusnya," pungkasnya.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah pesisir lainnya seperti Seraya, Bugbug, hingga Kubu.[*]
Editor : Hari Puspita