AMLAPURA, Radar Bali.id – Pura Agung Besakih mulai dipadati pemedek seiring digelarnya karya Ida Batara Turun Kabeh (IBTK) untuk 21 hari ke depan.
Mengantisipasi kemacetan horor yang kerap terjadi setiap tahunnya, Satlantas Polres Karangasem langsung tancap gas mempertebal pengamanan dan mematangkan rekayasa lalu lintas.
Kasat Lantas Polres Karangasem, AKP I Gusti Agung Putu Mahaputra, membeberkan beberapa skema jitu untuk mengurai potensi keruwetan kendaraan di jalur suci tersebut. Salah satunya adalah pemisahan kantong parkir.
Kendaraan jumbo seperti bus pariwisata bakal langsung diarahkan menuju area parkir Kedungdung. Sementara untuk kendaraan pribadi berukuran kecil dan sepeda motor, jalurnya lurus menuju parkiran Manik Mas.
"Pemedek tidak perlu khawatir kelelahan. Di kantong parkir sudah disediakan shuttle bus yang siap mengantar langsung menuju Pura Agung Besakih," ungkap AKP Mahaputra, Kamis (2/4/2026).
Skema satu arah juga diterapkan untuk arus kepulangan. Pihak kepolisian akan mengarahkan kendaraan yang keluar dari arah Pura untuk melewati jalur Batusesa.
Belajar dari Kasus As Truk Patah
Langkah tegas juga diambil kepolisian terhadap truk galian yang biasanya bebas berseliweran. Demi kelancaran pemedek, arus truk dialihkan sepenuhnya menuju jalur Sidemen.
Bagi truk yang tetap harus membawa material galian ke arah Rendang, AKP Mahaputra meminta sopir menggunakan kendaraan yang lebih kecil seperti pikap. Polisi tidak ingin kecolongan seperti kejadian IBTK tahun lalu.
"Tahun lalu ada truk yang patah as di tengah jalur padat. Imbasnya, macetnya luar biasa parah. Untuk mengantisipasi hal itu terulang, sekarang hanya kendaraan kecil yang boleh melintas," tegasnya.
AKP Mahaputra memprediksi lonjakan pemedek akan mulai terasa sejak H-3 akhir pekan. Hampir seluruh satuan di Polres Karangasem akan diterjunkan untuk mengawal jalannya IBTK agar tetap kondusif, termasuk tim khusus pengurai kemacetan.
Ia berharap, kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat dan pemedek bisa membuat IBTK tahun ini berjalan khidmat tanpa diwarnai kemacetan parah. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali