AMLAPURA, RadarBali.id – Perang Amerika-Israel mengeroyok Iran ternyata berimbas ke Karangasem juga. Deretan truk pengangkut material yang biasanya hilir mudik di wilayah Selat, Karangasem, pun kini mulai sunyi.
Para sopir lebih memilih memarkir kendaraan mereka daripada harus merugi. Kenaikan harga pasir yang meroket tajam menjadi pemicunya.
Hardi, salah satu sopir truk, hanya bisa menghela napas saat ditemui di lapangan, Senin (13/4/2026).
Ia mengungkapkan bahwa kenaikan harga di tingkat tambang benar-benar di luar kendali. "Dulu modalnya Rp 800 ribu, sekarang sudah melonjak jadi Rp 1,2 juta per truk," ungkapnya.
Kenaikan yang diduga akibat melambungnya harga solar non-subsidi ini menciptakan efek domino. Jika sebelumnya sopir bisa menjual ke pelanggan di angka Rp 2 juta, kini harga jual terpaksa melambung tinggi. Hasilnya? Pelanggan pun ramai-ramai membatalkan pesanan.
Kondisi ini juga mencekik para kontraktor. Ngurah Gde, salah seorang pelaksana proyek, mengaku pusing tujuh keliling. Pasalnya, proyek sedang berjalan sementara harga pasir cor kini menyentuh Rp 2,5 juta. "Ada cost lebih yang harus kami keluarkan secara mendadak," keluhnya.
Menanggapi gejolak ini, Kepala BPKAD Karangasem, I Nyoman Siki Ngurah, menyatakan telah menerjunkan tim untuk sosialisasi.
Ia menegaskan agar pengusaha Galian C tetap berpegang pada SK Gubernur Bali Nomor 101 Tahun 2025 tentang harga dasar MBLB agar stabilitas harga tetap terjaga.[*]
Editor : Hari Puspita