AMLAPURA, Radar Bali.id – Masyarakat di pelosok Kabupaten Karangasem masih kesulitan menikmati siaran televisi digital meski telah bermigrasi dari sistem analog.
Minimnya pancaran sinyal membuat warga harus memutar otak, mulai dari menggunakan perangkat tambahan hingga memasang antena di ketinggian yang ekstrem.
Keluhan salah satunya datang dari I Gede Suarta, warga Kecamatan Selat.
Ia mengaku sudah memasang antena setinggi dua batang bambu, namun tetap tidak mendapatkan sinyal.
Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, mengingat hajatan besar seperti Piala Dunia akan segera berlangsung. "Mungkin terpaksa nonton lewat YouTube saja kalau begini terus," keluhnya, Rabu (29/4/2026).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Karangasem, Ida Nyoman Astawa, mengakui wilayah Bali Timur dan Bali Utara memang menjadi daerah sulit sinyal (blank spot).
Kondisi geografis yang berbukit menghambat pancaran sinyal digital yang bersifat line of sight atau harus tanpa penghalang.
"Sinyal digital terhalang perbukitan sehingga tidak optimal. Selain itu, infrastruktur pemancar atau multiplexing (MUX) memang belum mencakup seluruh pelosok Karangasem," jelas Astawa.
Pihaknya kini menaruh harapan pada pembangunan menara pemancar oleh Pemprov Bali agar akses informasi digital bisa merata hingga ke ujung timur pulau.[*]
Editor : Hari Puspita