Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Pak Ahmad Nung yang Menjemput Impian di Usia Senja: Dari Menjual Kacamata Keliling Karangasem, Kini Menuju Tanah Suci Tunaikan Haji

Zulfika Rahman • Rabu, 6 Mei 2026 | 08:35 WIB
GIGIH BERJUANG WUJUDKAN IMPIAN  : Ahmad Nung, calon jamaah haji saat ditemui. ( Foto : zulfika Rahman)
GIGIH BERJUANG WUJUDKAN IMPIAN : Ahmad Nung, calon jamaah haji saat ditemui. ( Foto : zulfika Rahman)

Bahagia. Senyum tak pernah lepas dari wajah keriput Ahmad Nung. Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, gurat lelah akibat puluhan tahun berkeliling menjajakan kacamata seolah sirna. Warga Lingkungan Telaga Mas, Kelurahan Subagan, Karangasem ini tengah menghitung hari untuk mewujudkan impian terbesarnya: menginjakkan kaki di Baitullah.

PENANTIAN itu akhirnya sampai juga saatnya. Ahmad adalah satu dari 29 calon jamaah haji (CJH) asal Karangasem yang dijadwalkan bertolak menuju Surabaya pada 8 Mei mendatang.

Baca Juga: Cuma Berjumlah 11 Orang, Calon Jemaah Haji Klungkung Dimintai Doa Sebelum Diberangkatkan

Namun, bagi Ahmad, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan akhir manis dari sebuah penantian panjang selama 20 tahun.

Baca Juga: Panduan Adab, Amalan, dan Doa Melepas Keberangkatan Jemaah Haji

"Dari pertama mendaftar, baru 15 tahun lalu, kemudian dapat giliran. Alhamdulillah, rasanya senang dan bahagia sekali," ungkap Ahmad saat ditemui pada Selasa (5/5/2026).

Menabung dari Lembaran Kecil

Perjalanan Ahmad menuju Makkah tidaklah bertabur kemudahan. Sebagai pedagang kacamata dan aksesoris keliling di berbagai objek wisata di Bali, penghasilannya tidak menentu. Sejak remaja, ia telah bergelut dengan panas dan debu jalanan.

Sadar akan kondisi ekonominya, Ahmad mulai menyisihkan uang hasil jualan sedikit demi sedikit sejak dua dekade silam. Di sela-sela kewajibannya menghidupi tujuh orang anak, ia tetap konsisten menabung.

"Kadang saya tabung Rp 50 ribu, kadang Rp 100 ribu. Tergantung laku tidaknya dagangan hari itu. Kalau jualan sepi, ya tidak bisa menabung," kenangnya lirih.

Tentu saja, membagi uang antara biaya pendidikan tujuh anak dan tabungan haji adalah perjuangan batin yang berat. Namun, niat yang tulus membuka jalan.

Ahmad mengaku, meski tabungan dari hasil keringatnya belum sepenuhnya mencukupi, bantuan dari anak dan keponakannya akhirnya menutup kekurangan biaya hingga ia resmi terdaftar 15 tahun lalu.

Tetap Giat Menjaga Fisik di Usia 75 Tahun

Kini, menjelang keberangkatan, fokus utamanya adalah menjaga kondisi fisik. Ahmad sadar ibadah haji memerlukan ketahanan tubuh yang prima, apalagi di usianya yang tak lagi muda.

"Saya sudah cek kesehatan, sekarang fokus mengatur pola makan dan istirahat teratur agar tetap bugar sampai di sana," tuturnya dengan semangat yang masih membara.

Bagi Ahmad, bisa berangkat haji adalah sebuah mukjizat. Ia hanya memiliki satu doa sederhana: semoga diberikan kelancaran ibadah, menjadi haji yang mabrur, dan kelak anak-cucunya bisa mengikuti jejaknya menuju Tanah Suci.

Saat koper mulai dikemas dan doa-doa mulai dipanjatkan, sosok Ahmad Nung menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di hadapan niat yang kuat dan ikhtiar yang sabar, cita-cita setinggi langit pun bisa tergapai, satu lembar rupiah demi satu lembar rupiah.[*]

Editor : Hari Puspita
#kisah hidup #tanah suci #karangasem #jemaah haji