AMLAPURA, Radar Bali.id – Bagi para pencinta alam dan wisatawan yang berencana menaklukkan puncak tertinggi di Pulau Dewata dalam waktu dekat, tampaknya harus menahan diri.
Baca Juga: Pendakian Gunung Agung Ditutup Mulai 28 Maret 2026
Aktivitas pendakian menuju Gunung Agung dipastikan akan ditutup total untuk sementara waktu. Penutupan berkala ini akan berlangsung selama satu minggu penuh, terhitung mulai Jumat, 26 Juni 2026 hingga Kamis, 2 Juli 2026 mendatang.
Kebijakan penutupan jalur pendakian ini diberlakukan secara ketat berkaitan dengan segera dilaksanakannya ritual upacara keagamaan, yakni Upacara Pujawali di Pura Pengubengan, Besakih, Rendang, Karangasem.
Pemucuk Pura Pengubengan Besakih, Jro Mangku Nyoman Artawan menuturkan, keputusan untuk mensterilkan kawasan Gunung Agung dari segala aktivitas pendakian ini bukan keputusan sepihak. Langkah ini diambil setelah melalui proses paruman (rapat adat) resmi yang melibatkan berbagai komponen terkait, termasuk desa adat setempat.
”Kami juga sudah melayangkan surat resmi secara tertulis kepada Forum Pendakian Provinsi Bali, pemandu lokal di Karangasem, hingga pihak travel agent atau agen perjalanan wisata,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu, 24 Juni 2026.
Pemberitahuan kepada sejumlah agen perjalanan tersebut sengaja dilakukan jauh-jauh hari agar mereka tidak menjadwalkan atau melayani paket pendakian ke Gunung Agung selama seminggu penuh sepanjang ritual upacara suci tersebut berlangsung.
”Tentu kami berharap semua pihak dapat menghormati kesucian pura, dan tidak ada oknum pendaki yang nekat menerobos melakukan pendakian,” tegasnya.
Ia menjelaskan, penutupan kawasan hulu ini bertujuan utama untuk menjaga kesucian, ketenangan, serta kekhusyukan umat, sehingga seluruh tahapan prosesi upacara Pujawali dapat berlangsung dengan lancar dan aman (labda karya).
Jro Mangku Nyoman Artawan menambahkan, pelaksanaan puncak upacara Pujawali di Pura Pengubengan, Besakih tersebut sejatinya jatuh pada Senin, 29 Juni 2026 mendatang. Kendati demikian, seluruh rangkaian upacara atau pengawit sudah mulai dilaksanakan sejak hari Jumat ini. Oleh karena itu, jalur pendakian sudah harus steril dan ditutup sejak awal karena Ida Bhatara piodalan sudah mulai berstana di Pura Pengubengan. ”Semoga semua masyarakat dan wisatawan menaati peraturan adat ini,” harapnya.
Lebih lanjut, setelah seluruh rangkaian upacara piodalan selesai dilaksanakan dan ditutup dengan prosesi penyineban, para pendaki dan pemandu wisata dipastikan sudah bisa kembali melakukan aktivitas pendakian normal seperti sedia kala.
Terkait dengan segala persiapan sarana upacara di Pura Pengubengan, Artawan mengaku seluruh komponen warga dan panitia telah mempersiapkannya secara matang.
Mulai dari aksi reresik (pembersihan areal pura), pemasangan kain wastra hiasan suci, hingga penataan logistik upakara. Pihaknya sangat berharap tidak ada hal-hal non-teknis atau pelanggaran kesucian wilayah yang dapat mengganggu jalannya prosesi sakral ini. [*]
Editor : Hari Puspita