TABANAN, Radar Bali.id – Rencana Kepolisian Polres Tabanan untuk memperketat aktivitas pendakian di Gunung Batukaru melalui sistem satu pintu akhirnya disambut positif oleh Prajuru Pura Luhur Batukaru.
Baca Juga: Antisipasi Pendaki Tersesat di Gunung Batukaru, Polres Tabanan Dorong Penerapan Sistem Satu Pintu
Gayung bersambut, pihak prajuru mendukung penuh rencana tersebut karena dinilai mampu menekan angka kecelakaan fatal bagi para pendaki.
Jika mampu diterapkan, sistem ini diyakini dapat mengurangi kejadian pendaki yang hilang, tersesat, hingga meninggal dunia di kawasan hutan lindung Gunung Batukaru.
Bendesa Adat Wangaya Gede sekaligus pengurus Pura Luhur Batukaru, I Ketut Sucipto mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik niat kepolisian demi keselamatan bersama. Pihak desa adat sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan pentingnya aturan pendakian sejak beberapa tahun silam.
“Kami tidak melarang warga melakukan aktivitas pendakian di Gunung Batukaru. Tetapi, bagaimanapun juga kebebasan juga ada batasnya,” ujar Sucipto pada Selasa, 7 Juli 2026.
Sucipto menekankan, pendaki seharusnya tidak sekadar menikmati keindahan alam sekehendak hati, namun wajib menghormati status Gunung Batukaru sebagai areal suci. Pengawasan ketat dinilai krusial karena insiden fatal masih terus berulang meski upaya peringatan telah sering dilakukan sebelumnya. “Bukan melarang. Ikuti aturannya,” jelasnya.
Menurutnya, menjaga perilaku dan perbuatan selama mendaki adalah kewajiban yang harus dipatuhi oleh setiap orang. Rencana penerapan akses satu pintu oleh pihak kepolisian dianggap sebagai solusi tepat untuk memudahkan pemantauan arus pendaki. Prajuru meyakini koordinasi yang baik antara kepolisian, pemerintah daerah, dan desa adat akan menciptakan sistem pengawasan yang lebih baik lagi.
“Bagus sekali kalau memang ke depannya satu pintu. Akan memudahkan pengawasannya,” ungkapnya.
Apalagi, sambung Sucipto, penertiban ini juga sejalan dengan pesan spiritual yang diterima pihak prajuru saat rangkaian pujawali pada hari suci Galungan belum lama ini. Sucipto mengungkapkan adanya momen nuur baos di mana muncul peringatan langsung terkait keselamatan di kawasan gunung tersebut.
“Bukan kami yang memohon, secara langsung Beliaulah yang menyampaikan seperti itu, soal pendakian yang sering disertai orang hilang, tersesat, hingga meninggal dunia,” jelasnya.
Hal itu juga yang membuat pihaknya selaku prajuru memiliki keyakinan kuat agar aturan pendakian harus segera ditertibkan lagi. "Selain sistem satu pintu, kami juga mendorong agar setiap aktivitas pendakian didampingi oleh pemandu lokal guna memastikan kepatuhan terhadap aturan adat dan teknis keselamatan," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita