Jejak perjuangan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai kembali dikenang masyarakat Kabupaten Karangasem dari Desa Pempatan, Kecamatan Rendang. Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa, 48, atau yang akrab disapa Guru Pandu, melepas ratusan peserta Pelacakan atau Napak Tilas Perjuangan di Lapangan Dusun Pemuteran,Pempatan, Rendang, Sabtu, 15 Agustus 2026 (15/8/2026).
KEGIATAN ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Karangasem.
Para peserta diajak menyusuri kembali rute gerilya sekaligus mengenang pengorbanan para pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan tanah air.
Guru Pandu menegaskan, agenda napak tilas ini bukan sekadar kegiatan fisik berjalan kaki atau sekadar seremoni tahunan. Kegiatan ini harus mampu menjadi ruang pembelajaran sejarah yang hidup, sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur perjuangan kepada generasi muda.
“Napak tilas ini bukan hanya tentang menyusuri jalan yang pernah dilalui para pejuang. Yang paling penting adalah bagaimana kita memahami semangat, keberanian, dan pengorbanan mereka,” tegas Pandu saat memberikan pengarahan.
Menurutnya, nilai-nilai pantang menyerah dari para pejuang harus menjadi landasan dalam menjalani kehidupan saat ini. Pandu menyebut, perjuangan masa kini memiliki bentuk yang berbeda dibanding zaman sebelum kemerdekaan.
Jika dahulu para pejuang mengangkat senjata dan mempertaruhkan jiwa raga demi merebut kemerdekaan, maka perjuangan generasi sekarang diwujudkan melalui kerja keras, kedisiplinan, pendidikan, serta pengabdian yang tulus kepada masyarakat.
”Dulu para pejuang mengangkat senjata dan mempertaruhkan jiwa raganya. Sekarang kita tidak lagi berperang dengan senjata. Perjuangan kita adalah bagaimana membangun daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” ucap Pandu.
Desa Pempatan sendiri dipilih sebagai lokasi pelepasan bukan tanpa alasan. Desa tersebut menyimpan nilai historis yang amat kuat dalam perjalanan gerilya di bumi Karangasem. Dari wilayah lereng Gunung Agung inilah lahir I Wayan Rahat, salah satu pejuang lokal yang turut bertempur bahu-membahu bersama pasukan Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai.
”Pempatan memiliki sejarah perjuangan yang kuat. Ada putra daerah, I Wayan Rahat, yang ikut berjuang bersama pasukan I Gusti Ngurah Rai. Ini harus kita kenalkan kepada anak-anak kita, supaya mereka tahu bahwa Karangasem juga memiliki putra-putra terbaik yang berjuang untuk kemerdekaan,” tutur Pandu.
Ia berharap tradisi napak tilas tidak terhenti sebagai agenda rutin tahunan semata, melainkan menjadi sarana efektif merawat ingatan sejarah di tengah arus modernisasi.
”Jangan sampai generasi muda kita hanya tahu nama I Gusti Ngurah Rai, tetapi tidak memahami nilai perjuangan yang beliau wariskan. Sejarah harus kita hidupkan, kita ceritakan, dan kita tanamkan kepada generasi penerus,” tegasnya.
Mengakhiri arahannya pada Sabtu pagi Wita tersebut, Pandu mengajak seluruh peserta menjadikan momentum napak tilas untuk mempererat persatuan dan semangat gotong royong.
”Semangat para pahlawan adalah keberanian, persatuan, dan pengorbanan. Nilai itu masih sangat relevan hingga hari ini. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka dengan menjaga persatuan, bekerja dengan tulus, dan bersama-sama membangun Karangasem,” pungkasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali