Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Fakta! Penyebab Utama Stunting karena Pernikahan di Bawah Umur, Buleleng Meningkat Jadi 11 Persen

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 17 Juli 2023 | 03:30 WIB

 

MENINGKAT: Kasus stunting alias gizi buruk di beberapa kabupaten di Bali cenderung meningkat.
MENINGKAT: Kasus stunting alias gizi buruk di beberapa kabupaten di Bali cenderung meningkat.

DENPASAR,radarbali.id -   Kasus stunting menjadi momok di Bali, meski kasus paling rendah  secara nasional, yaitu keseluruhannya 8 persen. Namun, ada hal yang menjadi sorotan beberapa kabupaten malah terjadi peningkatan kasus.

Berdasar  hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, yaitu Kabupaten Gianyar (5,1 persen menjadi 6,3 persen) dan Kabupaten Buleleng (8,9 persen menjadi 11 persen).  Angka tertinggi di Jembrana 14,2 persen. 

Anggota Komisi IX DPR RI, Ketut Kariyasa Adnyana  yang membidangi kesehatan sangat  prihatin adanya peningkatan kasus di beberapa daerah di Bal. Ia  mengatakan yang menjadi faktor utama  terjadinya stunting adalah pernikahan dini. Maka perlu edukasi dan sosialisasi yang dilakukan  di sekolah-sekolah dan juga di lingkungan

 Baca Juga: Sekda Adi Arnawa Buka Lomba Mancing Air Deras di Basangkasa, Jaga Kebersihan Aliran Sungai di Lingkungan

"Di Bali sudah terbaik secara nasional di angka 8 persen. Disayangkan beberapa daerah yang rendah sekarang naik seperti di  Jembrana 14.2 persen  dan Buleleng jadi 11 persen," jelas Politisi asal Buleleng ini. 

Kariyasa meminta harus ada  perhatian serius menangani Stunting karena sangat membahayakan. Selain itu,   setiap kasus yang terjadi di Bali berdampak pada sektor pariwisata.

Seperti kasus  Rabies, Covid-19 dan juga demam berdarah. Kata Kariyasa  dalam mewujudkan  Bali zero Stunting  lebih mudah dilakukan  dibandingkan provinsi lain. Hal itu tidak muluk-muluk karena melihat geografis Bali. 

 Baca Juga: Kantor Hukum Ditutup Paksa Sejumlah Pria Kekar, Lawyer Lapor Polresta karena Merasa Diperas

 "Tidak berlebihan Bali menjadi target terbaik. Selama ini  banyak ditemukan bahwa selama ternyata penyebab  stunting tertinggi akibat pernikahan dini. Ada salah satu desa ada 14 orang stunting kami tanya mereka semua menikah di bawah umur," paparnya. 

Maka harus ada penanganan serius, harus adanya edukasi dari keluarga, lingkungan,dan sekolah. Menikah dini berdampak terjadi stunting, disebabkan dari fisik dan mental belum siap. Rata-rata pada usia muda belum mampu mengasuh anak. 

Terlebih pemerintah memiliki program pendampingan di desa di dalamnya ada posyandu, tim penggerak PKK, dan bidan yang berperan sebagai ujung tombak percepatan penurunan stunting.

 Baca Juga: AKOS Gelar Turnamen Sepak Bola KU 10 dan KU 12, Wujud Komitmen Pembinaan Olahraga

 Lebih lanjut Kariyasa menjelaskan stunting tidak lepas juga dari minimnya  pengetahuan, pekerjaan dan  juga kantong kemiskinan, serta gaya hidup dan pola asuh. Sebab, di daerah perkotaan juga ditemukan kasus stunting, karena sibuk kerja tidak memperhatikan anaknya. Anak dibiarkan tumbuh dengan gawai, juga anak hanya diserahkan kepada pengasuh. 

"Jika konsisten menangani,  zero Stunting bisa diwujudkan. Harus serius karena  stunting sangat bahaya. Saya yakin di Bali  bisa zero," tandasnya.***

 

Editor : M.Ridwan
#stunting #pernikahan dini #gizi buruk #pernikahan dibawah umur