DENPASAR,radarbali.id - Kasus stunting menjadi momok di Bali, meski kasus paling rendah secara nasional, yaitu keseluruhannya 8 persen. Namun, ada hal yang menjadi sorotan beberapa kabupaten malah terjadi peningkatan kasus.
Berdasar hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, yaitu Kabupaten Gianyar (5,1 persen menjadi 6,3 persen) dan Kabupaten Buleleng (8,9 persen menjadi 11 persen). Angka tertinggi di Jembrana 14,2 persen.
Anggota Komisi IX DPR RI, Ketut Kariyasa Adnyana yang membidangi kesehatan sangat prihatin adanya peningkatan kasus di beberapa daerah di Bal. Ia mengatakan yang menjadi faktor utama terjadinya stunting adalah pernikahan dini. Maka perlu edukasi dan sosialisasi yang dilakukan di sekolah-sekolah dan juga di lingkungan
"Di Bali sudah terbaik secara nasional di angka 8 persen. Disayangkan beberapa daerah yang rendah sekarang naik seperti di Jembrana 14.2 persen dan Buleleng jadi 11 persen," jelas Politisi asal Buleleng ini.
Kariyasa meminta harus ada perhatian serius menangani Stunting karena sangat membahayakan. Selain itu, setiap kasus yang terjadi di Bali berdampak pada sektor pariwisata.
Seperti kasus Rabies, Covid-19 dan juga demam berdarah. Kata Kariyasa dalam mewujudkan Bali zero Stunting lebih mudah dilakukan dibandingkan provinsi lain. Hal itu tidak muluk-muluk karena melihat geografis Bali.
Baca Juga: Kantor Hukum Ditutup Paksa Sejumlah Pria Kekar, Lawyer Lapor Polresta karena Merasa Diperas
"Tidak berlebihan Bali menjadi target terbaik. Selama ini banyak ditemukan bahwa selama ternyata penyebab stunting tertinggi akibat pernikahan dini. Ada salah satu desa ada 14 orang stunting kami tanya mereka semua menikah di bawah umur," paparnya.
Maka harus ada penanganan serius, harus adanya edukasi dari keluarga, lingkungan,dan sekolah. Menikah dini berdampak terjadi stunting, disebabkan dari fisik dan mental belum siap. Rata-rata pada usia muda belum mampu mengasuh anak.
Terlebih pemerintah memiliki program pendampingan di desa di dalamnya ada posyandu, tim penggerak PKK, dan bidan yang berperan sebagai ujung tombak percepatan penurunan stunting.
Baca Juga: AKOS Gelar Turnamen Sepak Bola KU 10 dan KU 12, Wujud Komitmen Pembinaan Olahraga
Lebih lanjut Kariyasa menjelaskan stunting tidak lepas juga dari minimnya pengetahuan, pekerjaan dan juga kantong kemiskinan, serta gaya hidup dan pola asuh. Sebab, di daerah perkotaan juga ditemukan kasus stunting, karena sibuk kerja tidak memperhatikan anaknya. Anak dibiarkan tumbuh dengan gawai, juga anak hanya diserahkan kepada pengasuh.
"Jika konsisten menangani, zero Stunting bisa diwujudkan. Harus serius karena stunting sangat bahaya. Saya yakin di Bali bisa zero," tandasnya.***
Editor : M.Ridwan