MANGUPURA, radarbali.id - Pencegahan stunting di Bali terus digaungkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Kendati demikian, di beberapa daerah penghasil ikan seperti Kabupaten Buleleng masih cukup tinggi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali, Putu Sumardiana paparkan meskipun termasuk sebagai daerah penghasil ikan, faktor lainnya juga mempengaruhi angka stunting.
"Stunting itu bukan hanya faktor makan ikan, (tetapi juga, red) edukasinya dan (instansi, red) yang terlibat banyak. Perlu adanya koordinasi baik dengan Dinas Kesehatan, BKKBN, dan DKP salah satu supporting-nya adalah memberikan ikan," jelasnya ketika menghadiri Gemarikan di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Badung, kemarin (22/8/2023).
Baca Juga: Rumah Mewah Lantai Dua Tak Berpenghuni Terbakar, Diketahui Milik Dosen Unud
Dicatatnya saat ini angka stunting di Bali sudah rendah dan berada di bawah rata-rata nasional, yakni 6,0 dari 8. Begitupun dengan Kabupaten Buleleng yang cukup tinggi namun masih berada di bawah rata-rata nasional.
"Di Bali yang masih tinggi sedikit tapi di bawah standar (nasional, red) adalah Buleleng. Buleleng ada banyak tambak bandeng, budidaya kerapu, apalagi benih bandeng atau nener," sambungnya.
Seperti diketahui, Buleleng merupakan penghasil benih bandeng terbanyak dengan tujuan eskpor ke Filipina. Dalam sehari, sebanyak 2 juta ekor bibit nener diekspor ke luar.
Baca Juga: Gigitan Anjing Rabies Tinggi, 52 Desa Kompak Bikin Aturan tapi Ada 23 Desa yang Belum: Ini Daftarnya!
Selain di Buleleng, pihaknya akan terus menggencarkan Gemarikan ke kabupaten yang angka stuntingnya masih tinggi. Utamanya untuk ibu hamil, ibu menyusui, balita usia di bawah 2 tahun, maupun lansia.
"Ke depan kita arahnya ke daerah stunting seperti Karangasem dan lainnya. Untuk sementara ini kita kolaborasi dengan Dinas Perikanan Badung dan di Badung dulu kita tuntaskan," tuturnya.***