NUSA DUA, radarbali.id- Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, TBK., Irwan Hidayat, menjadi pembicara dalam Forum Auditor Migas Indonesia (FAMI) Summit yang diselenggarakan di Nusa Dua, Kamis (21/9/2023).
Irwan yang puluhan tahun berkecimpung di industri jamu ini memberikan business insight bagi peserta yang hadir.
Irwan mengisahkan telah 54 tahun bekerja di Sido Muncul dan selalu berkecimpung di bidang marketing.
Untuk menjadi Sido Muncul seperti saat ini, ia mengaku banyak terinspirasi oleh dua hal, yaitu industri farmasi dan dunia kedokteran.
Industri farmasi disebutnya menganut empat hal, yaitu aman, rasional, jujur, dan berbasis ilmiah.
Sedangkan dari ilmu kedokteran, ia terinspirasi dengan Sumpah Hipokrates yang menyatakan dokter akan melayani pasien dengan hati, pikiran, dan ilmu yang dimiliki.
"Saya mengambil inspirasi dari perusahaan farmasi. Inspirator kedua adalah dunia kedokteran. Saya niru sehingga (menjadikan) Sido Muncul seperti sekarang ini," ujarnya.
Selain terinspirasi industri farmasi dan dunia kedokteran, untuk memajukan Sido Muncul hingga sukses seperti saat ini, ia punya satu prinsip, yaitu harus dicintai (lovable).
Baca Juga: BPJS Kesehatan Denpasar Gelar Sosialisasi Terpadu Program JKN dan Pemeriksaan Badan Usaha
Untuk mewujudkan prinsipnya itu, ia berkeyakinan harus menjadi sesuatu yang bermanfaat.
"Kita harus menjadi sesuatu yang bermanfaat jika ingin dicintai," katanya di hadapan ratusan peserta yang hadir.
Caranya? Ia pun berupaya untuk mencintai karyawannya dan lingkungan.
Karena dengan mencintai karyawan, mereka akan mencintai balik, yang dibuktikan lewat kinerjanya.
Ia pun mengaku tak terlalu setuju jika perusahaan hanya terpatok dengan key performance index (KPI).
Menurutnya, bisa saja mematok KPI, tapi jangan dijadikan sebagai penilaian akhir keberhasilan karyawan. "
Saya paling nggak seneng KPI. Kalau ada KPI sih nggak papa, tapi targetnya jangan tinggi, supaya tercapai terus targetnya. Yang penting logik aja. Prosesnya yang lebih penting," katanya.
Hal itu pun berlaku juga dengan lingkungan sekitar.
Pihaknya pun berupaya membantu sesama lewat CSR, seperti bantuan operasi katarak hingga penanganan stunting.
"Setelah 20 tahun kepercayaan itu tumbuh," ungkapnya yang kini sedang merintis restoran ayam goreng bernama "Bima" ini. (ken)
Editor : Rosihan Anwar