Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator dan Hipnoterapis)
BANYAK yang menganggap bahwa anti sosial itu sama dengan introver atau introvert. Padahal, dua kepribadian ini sangat berbeda,
Anti Sosial atau yang kerap disebut ansos sering kali ditujukan untuk orang yang menutup diri dan tidak mau bergaul dengan orang lain.
Karena anggapan sifat tertutup tersebut, orang yang mengaku introvert pun jadi disamakan dengan sifat anti sosial. Padahal, introver dan anti sosial memiliki pengertian yang bertolak belakang.
Banyak yang terjebak dengan kata anti sosial. “Anti” dalam kata ini biasa diartikan sebagai keengganan untuk bergaul. Nyatanya, anti sosial bukan berarti maknanya sesederhana seperti tidak mau bergaul.
Sehingga banyak yang menyamakan maknanya dengan introvert. Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, anti sosial adalah sebuah masalah kepribadian yang melanggar norma dan aturan.
“Dalam dunia psikologi, orang dengan anti social personality disorder memiliki masalah atau gangguan kepribadian yang melanggar norma. Lalu, tidak merasa bersalah ketika melukai orang lain dan umumnya melakukan tindak kriminal,” jelas Ikhsan.
“Orang tersebut punya pandangan negatif terhadap diri atau lingkungannya sehingga ia merasa tidak mampu berinteraksi dengan lingkungan. Pandangan negatif ini bisa karena rasa tidak percaya diri atau kecemasan yang ia miliki,” lanjutnya.
Berbeda dengan introvert. Meski terkesan menutup diri, namun orang introvert masih tetap berteman dan bersosialisasi.
“Orang introvert mampu berinteraksi sosial, tapi cenderung membatasi hubungan sosialnya. Itu sebabnya, kesannya seperti enggak bisa berinteraksi sosial. Ia biasanya cenderung memilih teman yang memiliki kesamaan dengannya,” ungkap Ikhsan.
Masih banyak orang yang keliru mengenai dua kepribadian itu. Ia meluruskan, bila seseorang benar-benar menarik diri dari pergaulan, terdapat istilah lainnya yaitu “asosial”.
“Kalau asosial, seseorang akan cenderung menarik diri dari lingkungan. Ini jelas berbeda halnya dengan anti sosial dan introver,” tuturnya.
Penyebab kedua hal itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pola asuh.
“Untuk introvert, kalau pola asuh orang tua memang biasa membatasi anak untuk keluar rumah atau lebih banyak di rumah, bisa jadi anak terbiasa dengan lingkungan atau suasana yang tenang seperti itu,” ujar Ikhsan.
“Kalau anti sosial, bisa jadi ada pola asuh atau faktor lingkungan yang membuatnya menjadi merasa enggak percaya diri, atau ada trauma yang pernah dialami seperti di-bully,” sambungnya.
Orang dengan gangguan kepribadian anti sosial tentu menjadi terhambat dalam hubungan sosialnya. Karena orang lain akan cenderung terganggu dengan cara berinteraksinya dan akhirnya bisa berdampak buruk pada pergaulannya.
Butuh proses perbaikan diri yang sangat panjang bagi orang anti sosial untuk lepas dari gangguannya. Selain itu, dibutuhkan konsistensi dalam menjalani terapi khusus dari ahlinya. (ss/han)
Editor : Rosihan Anwar