Oleh: dr. Evangelista Maria Pangkahila, S.Ked
MEMILIKI berat badan ideal adalah dambaan setiap orang. Berbagai macam cara ditempuh salah satunya dengan diet. Diet yang cukup populer dalam beberapa tahun terakhir yaitu diet ketogenik dan masih menuai kontroversi dalam hal keamanannya.
Diet ketogenik didefinisikan sebagai diet dengan asupan rendah karbohidrat (biasanya kurang dari 50 gram/hari). Pengurangan karbohidrat dalam makanan mengakibatkan tubuh mengalami kondisi yang disebut ketosis.
Ketika kondisi tersebut terjadi, secara efisien tubuh kita akan membakar lemak menjadi energi. Diet ketogenik dengan karbohidrat yang sangat rendah memiliki peran terapeutik pada beberapa penyakit seperti diabetes, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), acne, penyakit neurologis, kanker, serta penurunan risiko penyakit paru dan kardiovaskular. Aturan pola makan ketogenik adalah dengan rincian konsumsi lemak sebanyak 60-75%, protein 15-30, dan karbohidrat 5-10%.
Sebelum digunakan untuk menurunkan berat badan, diet keto sudah dianjurkan sebagai salah satu cara untuk mengatasi beberapa jenis penyakit seperti dapat mengontrol gula darah pada penderita diabetes tipe 2.
Mengurangi risiko penyakit jantung hal ini diduga karena diet keto mampu menurunkan kadar insulin, sehingga produksi kolesterol dalam tubuh juga ikut menurun.
Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa diet keto bermanfaat untuk meringankan gejala epilepsi pada anak.
Tak hanya itu, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 150 anak dengan epilepsi menunjukkan bahwa setelah menjalani diet keto selama 1 tahun, setengah dari anak-anak tersebut mengalami penurunan frekuensi kejang sebanyak 50%.
Selain epilepsi, diet keto juga diyakini memiliki manfaat untuk menangani gangguan sistem saraf, seperti penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson. Hal ini diduga berkat keton yang dihasilkan tubuh.
Keton diduga dapat mengurai lemak menjadi energi, sehingga mampu melindungi sel otak dari kerusakan.
Selain itu, ada beberapa manfaat diet keto lainnya bagi kesehatan, mulai dari mengurangi jerawat, membantu penanganan PCOS, hingga menghambat perkembangan sel kanker.
Terdapat dua metode yang umum yang pertama diet keto standar (standard ketogenic diet), meliputi pola makan berupa 70% konsumsi lemak, 20% protein, dan 10% karbohidrat dan yang kedua diet keto tinggi protein (high-protein ketogenic diet), meliputi pola makan berupa 60% konsumsi lemak, 35% protein, dan 5% karbohidrat.
Berikut merupakan contoh makanan kaya lemak yang dianjurkan dalam diet keto seperti telur omega, daging, ayam, ikan tuna, salmon, mentega, keju, sayur hijau, tomat, kacang, biji-bijian seperti almond, wijen, chia, alpukat, minyak kelapa, minyak zaitun.
Sementara itu, jenis karbohidrat yang perlu dihindari adalah nasi, pasta, sereal, produk gandum, umbi-umbian, makanan atau minuman manis, lemak tidak sehat dari minyak sayur atau mayonnaise.
Diet keto dianjurkan untuk dilakukan dalam jangka pendek, yaitu mulai dari 2–3 minggu hingga batas maksimal 6–12 bulan. Diet ini dilakukan sebatas untuk mengurangi lemak tubuh dan memperbaiki kesehatan.
Hal tersebut bertujuan untuk menghindari risiko gangguan kesehatan yang mungkin terjadi jika diet keto dilakukan dalam jangka panjang. Efek samping ringan diet ketogenik antara lain sakit kepala, konstipasi, dan sulit tidur.
Pada pasien obesitas, menunjukkan bahwa diet ketogenik mampu mengurangi berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, dan memperbaiki resistensi insulin. Setelah menjalani diet keto, selanjutnya dianjurkan untuk melakukan pola hidup sehat dan konsultasikan pada dokter gizi. (*)
Editor : Rosihan Anwar