Oleh: drg. Steffano Aditya Handoko, MPH., Sp.Pros
MASYARAKAT Lanjut Usia (Lansia) di Bali banyak mengalami permasalahan gigi. Utamanya jumlah gigi yang hilang atau dikenal dengan gigi ompong.
Penurunan jumlah gigi yang dialami kaum lansia dapat mengganggu kesehatan fisik. Hal ini belum banyak disadari oleh masyarakat Bali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan jumlah gigi mempengaruhi penurunan fungsi kognitif dan kekuatan fisik terhadap lansia.
Hal itu dikarenakan seorang lansia tidak bisa menerima asupan nutrisi karena kekuatannya dalam mengunyah makanan melemah. Salah satu indikatornya bisa dilihat dari kekuatan menggenggam tangan.
Ini lambat laun akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Salah satunya akan meningkatkan risiko terjadinya Alzheimer dan keseimbangan postur terhadap lansia.
Bisa memicu penyakit serius seperti stroke, diabetes melitus, dan kardiovaskular. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan pemasangan gigi tiruan.
Saya menyadari, edukasi tentang penggunaan gigi tiruan di Bali belum dilakukan dengan baik. Dari beberapa penelitian yang saya lakukan, banyak lansia mengeluhkan biaya pemasangan gigi tiruan yang mahal, takut sakit atau tidak nyaman pada saat pemakaian gigi tiruan, dan lamanya pembuatan gigi tiruan.
Banyak masyarakat belum mengetahui bahwa gigi tiruan tersedia beberapa macam dan pilihan.
Ada gigi tiruan cekat, salah satunya implan. Di mana implan ini langsung tertanam di dalam tulang rahang, sehingga memberikan perasaan nyaman saat mengunyah seperti gigi asli, dan ada juga gigi tiruan yg dapat dilepas pasang (removable).
Biayanya berbeda-beda. Menurut saya, belum banyak informasi tentang biaya yang disampaikan kepada masyarakat.
Saya berharap, masyarakat, khususnya lansia, semakin peduli terhadap kesehatan gigi untuk mencegah gangguan kesehatan-kesehatan lainnya. (*/penulis adalah praktisi dan dosen di universitas udayana dan dokter gigi spesialis gigi tiruan atau prothodonsia)
Editor : Rosihan Anwar