DENPASAR, radarbali.id - Beberapa hari lalu ramai di media sosial ramai pasien yang akan ke poliklinik di RS Prof Ngoerah krodit karena antrean pasien harus sidik jari anjungan pendaftaran mandiri berlokasi di pintu masuk poliklinik.
Ternyata, yang wajib sidik jari adalah pasien menggunakan BPJS diwajibkan melakukan absen sidik jari sebelum mendapatkan pelayanan pemeriksaan. Walaupun pasien yang sedang terbaring di kasur juga wajib absen sidik jari sebelum diperiksa.
Hasil pantauan koran ini di mesin anjungan pendaftaran mandiri di depan poliklinik tidak terlalu padat. Setiap anjungan terdapat petugas membantu setiap pasien.
Diwawancarai langsung dengan Direktur Layanan Operasional RS I.G.N.G Ngoerah I Gusti Ngurah Ketut Suka Darma mengatakan kejadian krodit yang ramai di media sosial terjadi usai libur lebaran.
Ngurah Suka Darma yang didampingi bagian IT mengungkapkan krodit terjadi karena sistem dari BPJS yang bermasalah sehingga harus menunggu lama untuk penerbitan SEP (surat eligibilitas pasien) menyebabkan antrean dan krodit.
Surat eligibilitas pasien (SEP) bertujuan supaya mendapatkan informasi mengenai rujukan dan berkaitan dengan premi.
"Untuk penerbitan ini butuh tanda tangan BPJS melalui sidik jari pasien. Jadi pasien BPJS itu yang datang wajib menggunakan sidik jari untuk memastikan bahwa peserta yang itu memang benar yang bersangkutan," ungkap Ngurah Suka Darma.
Ia melanjutkan, pihaknya mencari solusi menangani permasalahan sistem supaya tidak ada antrean pasien.
Apakah dengan menerima pasien terlebih dahulu dan mengurus SEP terakhir. Namun, kata Ngurah Suka Darma karena berkaitan dengan klaim premi, jika SEP diterbitkan belakangan tapi ternyata status pasien BPJS tidak aktif atau belum bayar premi akan berdampak untuk rumah sakit mengenai klaim pembayaran dengan BPJS.
"Hal-hal seperti tadi yang bahwa dia belum bayar premi, kemudian apa rujukan tidak bawa. Nah itu akan hilang. Otomatis tagihan tidak akan bisa diklaim ke bpjs. Lost begitu. Ini yang kemungkinan ini. Apakah itu akan kita ambil salah satunya harus dipikirkan kebijakan itu," terang Ngurah Suka Darma.
Ia mengatakan permasalahan tidak hanya terjadi di RS Prof Ngoerah, tapi menjadi masalah di nasional.
Pihaknya mengimbau masyarakat mendaftar secara online untuk mengurangi kerumunan. Kendati sudah ada via online, pasien yang sudah daftar dan mendapat jadwal siang tetap datang pagi hari dengan harapan dapat lebih dulu diperiksa.
"Paling tidak begini bisa mengedukasi masyarakat mengurangi kerumunan. Pendaftaran online berharap datang sesuai dengan jamnya. Jangan khawatir mereka tidak mendapatkan layanan," katanya.