Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kacau! Pasien BPJS Diwajibkan Sidik Jari di Anjungan Pendaftaran Mandiri Picu Krodit, Direktur RS Prof Ngoerah Salahkan Sistem BPJS

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 25 April 2024 | 15:24 WIB
KACAU: Suasana antrean yang memicu krodit pelayanan kesehatan di Anjungan Pendaftaran Mandiri RS Prof Ngoerah viral di media sosial beberapa hari lalu.
KACAU: Suasana antrean yang memicu krodit pelayanan kesehatan di Anjungan Pendaftaran Mandiri RS Prof Ngoerah viral di media sosial beberapa hari lalu.

DENPASAR, radarbali.id -  Beberapa hari lalu ramai di media sosial ramai  pasien yang akan ke poliklinik di RS Prof Ngoerah krodit karena antrean pasien harus sidik jari anjungan pendaftaran mandiri berlokasi di pintu masuk poliklinik. 

Ternyata, yang wajib sidik jari adalah pasien  menggunakan BPJS diwajibkan melakukan absen sidik jari sebelum mendapatkan pelayanan pemeriksaan.  Walaupun  pasien yang sedang terbaring di kasur juga wajib absen sidik jari sebelum diperiksa.

Hasil pantauan koran ini di mesin anjungan pendaftaran mandiri  di depan poliklinik tidak terlalu padat. Setiap anjungan terdapat petugas membantu setiap pasien.

Diwawancarai langsung dengan Direktur Layanan Operasional RS I.G.N.G Ngoerah I Gusti Ngurah Ketut Suka Darma mengatakan kejadian krodit yang ramai di media sosial  terjadi usai libur lebaran. 

Ngurah Suka Darma  yang didampingi bagian IT mengungkapkan krodit terjadi karena sistem dari BPJS yang bermasalah sehingga harus menunggu lama untuk penerbitan SEP (surat eligibilitas pasien)  menyebabkan antrean dan krodit. 

Surat eligibilitas pasien (SEP) bertujuan  supaya mendapatkan informasi mengenai rujukan dan berkaitan dengan premi.

"Untuk penerbitan ini butuh tanda tangan BPJS melalui sidik jari pasien. Jadi pasien BPJS itu yang datang wajib menggunakan sidik jari untuk memastikan bahwa peserta yang itu memang benar yang bersangkutan," ungkap Ngurah Suka Darma.

Ia melanjutkan, pihaknya mencari solusi menangani permasalahan sistem supaya tidak ada antrean pasien. 

Apakah dengan menerima  pasien terlebih dahulu dan  mengurus  SEP terakhir. Namun, kata Ngurah Suka Darma karena  berkaitan dengan klaim premi, jika SEP diterbitkan belakangan tapi ternyata status pasien BPJS tidak aktif atau belum bayar premi  akan berdampak untuk rumah sakit mengenai klaim pembayaran dengan BPJS.

"Hal-hal seperti tadi yang bahwa dia belum bayar premi, kemudian apa rujukan tidak bawa. Nah itu akan hilang. Otomatis tagihan tidak akan bisa diklaim ke bpjs. Lost begitu. Ini yang kemungkinan ini. Apakah itu akan kita ambil salah satunya harus dipikirkan kebijakan itu," terang Ngurah Suka Darma.

Ia mengatakan permasalahan tidak hanya terjadi di RS Prof Ngoerah, tapi menjadi masalah di  nasional. 

Pihaknya mengimbau masyarakat mendaftar secara online untuk mengurangi kerumunan. Kendati sudah ada via online, pasien yang sudah daftar dan mendapat jadwal siang tetap datang pagi hari dengan harapan dapat lebih dulu diperiksa.

"Paling tidak begini bisa mengedukasi masyarakat mengurangi kerumunan. Pendaftaran online berharap datang sesuai dengan jamnya. Jangan  khawatir mereka tidak mendapatkan layanan," katanya. 

Selain itu, hal yang dikeluhkan mengenai parkir yang terbatas. Tampak lahan parkir motor tidak luas membuat pengantar pasien  kesulitan mencari parkir.
 
Menanggapi itu, kata Ngurah Suka Darma  saat ini manajemen rumah sakit sedang membangun berapa gedung salah satunya gedung poliklinik yang terdapat basemen untuk parkir. 
 
Baca Juga: Menjadi Rebutan Menjelang Pilkada Jembrana, Begini Reaksi Ipat
 
"Setiap bangunan kita bangun ada basement. Basemen diperuntukkan parkir roda empat dua. Poliklinik ini di basemen bisa menampung 700 sampai 800 motor. Semua kendaraan masyarakat bisa ditaruh di basemen," jelasnya.
 
Sementara karyawan akan khusus memiliki tempat parkir  di lahan yang disewa dari warga sekitar. Ditarget pertengahan Mei basemen di gedung poliklinik bisa digunakan untuk parkir. 
 
Dipaparkan jumlah orang setiap hari ke rumah sakit tertua di Bali ini sekitar 7000 hingga 8000 orang.
 
Baca Juga: Aneh! Dipecat dan Sudah PAW, AWK Nekat Sidak Layaknya Masih Aktif, Gunakan Logo DPD RI di KOP Surat, Begini Dalihnya
 
Jumlah itu sudah termasuk pasien, tenaga kesehatan, karyawan  serta mahasiswa yang belajar.  Khusus pasien poliklinik  rata-rata 1.500 hingga 1.700 orang per hari.  "Rata-rata 1.500 pasien yang ke poliklinik dan saat krodit itu 1.700. Belum lagi pasien yang ke IGD," tandasnya. ***
Editor : M.Ridwan
#Krodit #Anjungan Pendaftaran Mandiri #RS Prof Ngoerah #bpjs #pasien bpjs #rs sanglah