DENPASAR, radarbali.id - Penyandang disabilitas harus mendapatkan pelayanan yang sama dan juga harus terlayani, terutama di fasilitas kesehatan, karena keterbatasannya kadang mereka kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan di rumah sakit. Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) diminta untuk menyediakan penerjemah bahasa isyarat.
Hal itu disampaikan Rudolf penyandang tunarungu yang disampaikan langsung penerjemahnya yang diutarakan ke Direktur RSBM saat Forum Konsultasi Publik (FKP) RSUD Bali Mandara kemarin (21/6/2024).
"Baiknya ada juru isyarat, supaya teman-teman tunarungu mengerti," katanya kemarin (20/6)
Baca Juga: Diduga Korsleting Kulkas, Warung Makan di Bung Tomo Dilalap Api
RSBM juga diharapkan bekerja sama dengan organisasi disabilitas sehingga layanan semakin ramah. Aplikasi ataupun website pendaftaran juga bisa diakses kelompok rentan.
"Aplikasi pendaftaran online agar update dan diperhatikan agar mudah diakses," ungkap salah satu peserta dari penyandang tuna netra.
Direktur RSBM I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya saat diwawancarai kemarin mengatakan akan beraudiensi dengan organisasi penerjemah bahasa isyarat rencana mengadakan pelatihan.
Tenaga kesehatan khususnya customer service dan di bagiannpendaftaran juga akan dilatih untuk berbahasa isyarat sehingga bisa melayani teman-teman tunarunggu jika ada yang berobat di RSBM. "Akan ada audiensi rencana besok. Kami sudah jadwalkan audiensi. Selain disana melatih teman-teman kami langsung bisa menggunakan bahasa isyarat tersebut," jelasnya.
Ngurah Putra mewajibkan front liner dan pemberi layanan untuk menginstal aplikasi Hear Me yang merupakan aplikasi penerjemah bahasa isyarat sehingga pasien penyandang disabilitas mudah mengaksesnya.
Disampaikan RSUD Bali Mandara sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Provinsi Bali, memiliki komitmen untuk mewujudkan layanan kesehatan prima bagi seluruh masyarakat. "Kami ingin memberikan pelayanan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga mudah diakses, terjangkau, dan berorientasi pada pasien," ucapnya.
Tidak hanya kendala pelayanan kelompok rentan, RSBM mengakui banyak menerima komplain karena masalah pelayanan.
Dibeberkan komplain terbanyakan karena keterlambatan pelayanan, sarana prasarana dan komunkasi. Komplain itu langsung disampaikan di media sosial dan google review.
"Komplain terbanyak masih dari keluhan keterlambatan pelayanan dan komunikasi efektif dengan akar permasalahan; pertama, sistem reservasi belum berbasis website dan kedua, komunikasi efektif belum optimal," kata Wakil Direktur Pelayanan dr I Ketut Widiyasa.***
Editor : M.Ridwan