DENPASAR, radarbali.id - Teknologi dunia kedokteran semakin berkembang pesat, pelaksanaan operasi dilaksanakan, telerobotic surgery sebelumnya telah dilakukan dokter dari Prof Ngoerah melakukan operasi dengan jarak 1.200 kilometer.
Diklaim dengan teknologi lebih efektif dan tepat dibandingkan operasi langsung. Sayangnya, telebrotic membutuhkan dana besar dan jaringan yang kuat.
Di RS Prof Ngoerah telah tiga kali menjalankan operasi dengan telerobotic, untuk operasi tumor prostat dan kista ginjal.
Operasi telerobotik merupakan sebuah metode bedah jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi robotik dan jaringan nirkabel, yang akan memungkinkan dokter bedah untuk melakukan tindakan operasi terhadap pasien secara jarak jauh dan real-time.
Teknologi operasi telerobotik ini ke depannya akan bisa digunakan untuk lebih banyak jenis pembedahan, tidak hanya kasus urologi, tetapi juga bedah digestif, bedah toraks kardiovaskular (BTKV), obgyn, dan lain-lain.
Hanya saja, untuk mengembangkan operasi ini menjadi jarak jauh (menjadi operasi telerobotik), perlu didukung dengan dukungan pengadaan jaringan internet yang stabil, di mana syarat utama dari operasi telerobotik adalah latency time kurang dari 150 mS, kecepatan internet diatas 50 mbps dan jitter < 10 mS.
Baca Juga: Berobat di Australia, Wanita Inggris Meninggal di Bali
Secara teknis, pada operasi telerobotik terdapat dua komponen utama, yaitu robotic arm (lengan robot) dan surgeon’s console, yaitu alat pusat kendali yang akan dioperasikan secara langsung oleh dokter bedah. Di pusat kendali tersebut terdapat layar untuk melihat bidang bedanya secara 3D.
Dua komponen ini dihubungkan oleh kabel fiber optik. Dengan penggunaan jaringan yang baik dan cepat (internet 5G), perintah dari console dapat dikerjakan oleh lengan robot di waktu yang hampir bersamaan meskipun jaraknya terlampau sangat jauh
Ditemui di RS Prof Ngoerah, Dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Chaidir Arif Mochtar didampingi Direktur Utama RS Prof Ngoerah dr Wayan Sudana, saat diwawancarai media di Poliklinik RS Prof Ngoerah kemarin (5/9/2024), menerangkan dengan telerobotik operasi ini tidak perlu datang jauh ke pusat pelayanan canggih bisa melayani daerah-daerah di pelosok.
”Support internet koneksi, saluran 5G. Dengan itu mampu melakukan. Kalau kekurangan dokter spesialis operasi spesifik seperti operasi prostat agak rumit maka bisa menerapkan perangkat itu misalnya di rumah sakit provinsi, ” jelasnya.
Diharapkan pemerintah dapat mendukung penggunaan telerobotic ini. Bisa dibuktikan sebelumnya RSCM bekerja sama dengan RS Prof Ngoerah menggelar operasi jarak jauh.
”Sekarang kami lakukan itu. Baru sekali try out Prof Ngoerah, itu bagaimana. Alatnya di bawah ke sini ada pertemuan di BNDCC. Pertontonkan kemampuan kita. Lakukan nanti sore kerjasama RS Udayana melakukan telerobotik,” ujar Chaidir.
Dengan adanya telerobotik tingkat pelayanan kesehatan diklaim akan merata supaya. Saat ini teknologi dipakai dari Tiongkok yang harganya cukup fantastis kisaran USD 3,5 juta kalau dirupiahkan sekitar Rp 53 miliar lebih. Sedangkan merek lain misalkan da Vinci harga lebih mahal sekitar USD 5 juta.
”SDM kami sudah siap segi peralatan Kemenkes rencanakan empat, satu di RSCM, satu RS Sadikin,RS Ngoerah, RS Purwokerto. Mohon doakan semoga lancar,” Direktur Utama RS Prof Ngoerah Wayan Sudana
Lebih lanjut Dirut RS Prof Ngoerah menjelaskan sebelumnya telah sukses melakukan operasi telerobotik sejauh 1.200 km pada pasien RSCM melalui kendali konsol di RS Ngoerah pada tanggal 30 Agustus 2024, Urologi Indonesia kemudian juga telah melakukan uji coba Radical Prostatectomy Robotic di RS Ngoerah tanggal 02 September 2024.
Operasi yang berlangsung selama kurang lebih 5 (lima) jam dilakukan secara robotik yang memiliki keunggulan lebih presisi dengan luka sayatan kecil.
”Sehingga mengurangi banyak kehilangan darah, serta prosedur operasi dan pemulihan yang lebih cepat,” ucapnya.
Dalam rangkaian Kongres Urological Association of Asia (UAA) kali ini Urologi Indonesia kembali melakukan telerobotic surgery yang kedua di Indonesia melibatkan pasien RS Ngoerah dengan kendali konsol di RS Unud.
Diterangkan metode pembedahan jarak jauh menjadi salah satu fokus pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia.
”Kami sangat bangga telah terlibat dalam melakukan setidaknya dua kali operasi telerobotik yang dijalankan secara mandiri, yaitu antara RS Ngoerah dengan RSCM Jakarta pada 30 agustus lalu, dan yang saat ini yaitu antara RS Unud dengan RS Ngoerah. Kami yakin keduanya berjalan dengan sukses dan hasilnya sangat baik,” harap Sudana. ***
Editor : M.Ridwan