Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Deteksi Dini Kanker Payudara

Rosihan Anwar • Kamis, 12 September 2024 | 15:56 WIB
Lettu Ckm dr. I Komang T. Aryawan
Lettu Ckm dr. I Komang T. Aryawan

Oleh: Lettu Ckm dr. I Komang T. Aryawan

KANKER PAYUDARA merupakan tumor yang menyerang jaringan payudara. Jaringan payudara tersebut terdiri dari kelenjar susu, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara. Kanker payudara menyebabkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk menjadi abnormal dan bertambah banyak secara tidak terkendali.

Kanker Payudara adalah kanker dengan prevalensi tertinggi pada wanita di negara maju dan negara berkembang. Berdasarkan lembaga riset kanker International Agency for Research on Cancer (IARC), merilis data mengenai beban kanker dunia. Data yang diambil dari 185 negara ini menunjukkan bahwa kanker masih mendominasi penyebab kematian utama di seluruh dunia.

Data tersebut menyebutkan bahwa kasus kanker baru di dunia mencapai angka 20 juta kasus, dengan jumlah kematian sebesar 9,7 juta kasus. Dari angka ini, kanker payudara merupakan kanker dengan prevalensi tertinggi kedua di dunia dengan jumlah11,6% dari seluruh penderita kanker. Pada tahun 2018 di Indonesia, kanker payudara merupakan insiden kanker terbanyak dengan jumlah 58.251 kasus dan tingkat kematian paling tinggi. angka tersebut meningkat pada tahun 2020 berdasarkan Globocan 2020, kasus kanker tertinggi  pada perempuan adalah kanker payudara sejumlah 65.858 kasus.

Terjadinya kanker payudara berhubungan erat dengan beberapa faktor diantaranya faktor genetik, riwayat keluarga, umur, status menyusui, usia menarche dini, usia menopause, paritas/jumlah kelahiran, pemakaian kontrasepsi hormonal, merokok, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, obesitas pasca menopause, dan terpapar radiasi ke dada.

Tingginya angka kematian akibat kanker payudara sangat dipengaruhi keterlambatan dalam mengetahui penyakit dan keterlambatan dalam pengobatan, sehingga mendeteksi dini dan mengenal lebih awal tanda kanker payudara menjadi factor yang sangat penting dalam mencegah angka kematian akibat kanker payudara.

Salah satu cara deteksi dini kanker payudara yaiu dengan pemeriksaan payudara sendiri atau yang dikenal dengan SADARI ialah teknik skrinning awal yang dapat diterapkan dan dilakukan oleh semua orang dan diakui efektif dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara. Tujuan dari metode SADARI adalah guna mendeteksi dini jika terdapat benjolan ataupun tanda-tanda lain yang mencurigakan pada payudara agar dapat melakukan tindakan pengobatan yang tepat secepatnya.

SADARI sebaiknya dilakukan setiap kali selesai menstruasi (hari ke-10, terhitung mulai hari-pertama haid). Pemeriksaan dilakukan setiap bulan sejak umur 20 tahun. Cara melakukan Sadari yang benar dapat dilakukan dalam 5 langkah yaitu :

  1. Dimulai dengan memandang kedua payudara didepan cermin dengan posisi lengan terjuntai kebawah dan selanjutnya tangan berkacak pinggang.
  1. Tetap didepan cermin kemudian mengangkat kedua lengan dan melihat kkelainan seperti pada langkah 1.
  2. Pada waktu masih ada didepan cermin, lihat dan perhatikan tanda tanda adanya pengeluaran cairan dari puting susu.
  3. Berikutnya dengan posisi berbaring, rabalah kedua payudara, payudara kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya, gunakan bagian dalam (volar/telapak) dari jari ke 2-4. Raba seluruh payudara dengan cara melingkar dari luar kedalam atau dapat juga vertikal dari atas kebawah.
  4. Langkah berikutnya adalah meraba payudara dalam keadaan basah dan licin karena sabun dikamar mandi; rabalah dalam posisi berdiri dan lakukan seperti langkah-4.

Langkah deteksi dini selanjutnya adalah dengan cara SADANIS yaitu periksa payudara klinis. Pemeriksaan klinis payudara dikerjakan oleh petugas kesehatan yang terlatih, mulai dari Tingkat Pelayanan Kesehatan Primer baik di klinik kesehatan atau di Puskesmas. Pemeriksaan klinis pada payudara dilakukan sekurangnya 3 tahun sekali atau apabila ditemukan adanya abnormalitas pada proses Sadari.

Selanjutnya setelah dilakukan pemeriksaan klinis payudara maka dapat ditentukan apakah memang betul ada kelainan dan apakah kelainan tersebut termasuk kelainan jinak, ganas atau perlu pemeriksaan lebih lanjut sehingga membutuhkan rujukan ke Tingkat Pelayanan Kesehatan Sekunder atau Tersier yaitu Rumah Sakit dengan ketersediaan Dokter Spesialis Bedah.

Dengan meningkatnya pengetahuan Masyarakat diharapkan dapat mendeteksi dini kanker payudara sehingga menurunkan angka kesakitan dan angka kematian dari Kanker Payudara. (*)

 

 

Editor : Rosihan Anwar