Oleh: Ni Putu Ekayani S.L., S.Si.,Apt.,M.Biomed
(BBPOM di Denpasar)
“BALI BELLY” adalah istilah umum untuk wisatawan mancanegara yang menderita diare selama berwisata di Bali. Gejala yang umum terjadi yaitu: diare, mual, kram perut dan demam.
Merebaknya kasus ini menyerang wisatawan membawa tantangan tersendiri untuk senantiasa menjaga keamanan pangan.
Apa penyebab Bali Belly?
Si OMA : Bali Belly dapat disebabkan oleh hal yang sama terkait kemamanan pangan yaitu focus pada bahaya Biologi. Penyebab yang umum pada kasus ini :
- Bakteri, seperti Escherichia coli (E. coli), shigella, dan salmonella yang mencemari makanan dan air minum
- Virus, seperti norovirus dan rotavirus yang mencemari makanan dan air minum atau kontak langsung dengan personal yang terjangkit
- Parasit, seperti giardia lamblia dan cyclospora
- Makanan Sangat Pedas yang mengandung capsaisin yang menyebabkan iritasi dan mengakibatkan diare bila mengkonsumsi berlebihan.
Bagaimana mencegahnya?
Si OMA :
- Minumlah Air Minum Dalam Kemasan yang sudah ada Nomor Izin Edar Badan POM atau air matang, hindari menggunakan air keran, bahkan untuk menyikat gigi.
- Bila ingin mengkonsumsi es, pastikan konsumsi es yang telah ada izin edar BPOM atau es yang dibuat dari air matang.
- Hati-hati mengkonsumsi jajanan yang dibeli dari pedagang kreatif lapangan ( Pedagang Kaki Lima ) karena tidak semua pedagang kreatif lapangan telah mendapatkan penyuluhan terkait keamanan pangan dan memenuhi standar higiene sanitasi.
- Konsumsilah makanan yang dimasak, hindari konsumsi pangan mentah, terutama salad harus dicuci bersih dengan air mengalir, karena kemungkinan mengandung bakteri.
- Jaga selalu kebersihan tangan, dengan sering mencuci tangan atau menggunakan Hand Sanitizer.
- Hindari mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas yang mengakibatkan diare dan sakit perut.
Bila sudah kena Bali belly, bagaimana langkah langkah pengobatannya
Si OMA :
- Tetap minum banyak untuk menjaga supaya tetap terhidrasi atau tidak dehidrasi seperti Air Minum Dalam Kemasan dan cairan elektrolit.
- Minum Probiotik yang mengandung bakteri baik untuk menormalkan funsi pencernaan
- Bila gejala Bali Belly tidak kunjung membaik atau sembuh, disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya, karena ada kemungkinan memerlukan obat obatan seperti antibiotik dan obat lainnya untuk menghentikan gejala yang ditimbulkan.
Untuk mengatasi “Bali Belly”, apa yang telah dilakukan oleh BPOM yang ada di Bali?
Si OMA :
Tupoksi Balai Besar POM di Denpasar adalah melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Obat dan Makanan yang diproduksi dan beredar di provinsi Bali.
Masalah Kesehatan yang diakibatkan oleh makanan yang dikonsumsi oleh Masyarakat yang hadir atau berkunjung di Bali juga merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi dan media.
Hal ini telah direalisasikan dengan pembentukan tim koordinasi pembinaan dan pengawasan obat dan makanan. Tim yang terdiri dari beberapa organisasi pemerintah daerah terkait sangat konsen dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pangan yang beredar.
Untuk kasus Bali Belly yang biasanya terjadi pada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali telah dilakukan Langkah Langkah antisipatif berupa Edukasi Keamanan Pangan/Food Safety kepada para pedagang kreatif lapangan di daerah daerah destinasi wisata.
Seperti Pura Besakih, Monumen Bajra Sandi Renon, Area Kuliner Pesta Kesenian Bali, dll. Di Kawasan ini, dilakukan sampling dan pengujian terhadap produk pangan siap saji yang dijual dan edukasi hygiene sanitasi kepada para pedagang.
Hal ini sangat penting mengingat hasil penelitian Desyantari dkk tahun 2023, bahwa lokasi mengonsumsi makanan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian Bali Belly pada wisatawan mancanegara di Kawasan Wisata Pantai Pandawa.
Lokasi yang dimaksud adalah Pedagang Kaki Lima di seputaran area Kawasan wisata. Dilakukan pula edukasi kepada para pengelola hotel yang melakukan tugas di bagian pengolahan pangan siap saji seperti Anvaya Hotel, dan lain-lain.
Akan dilaksanakan pemasangan Banner di area bandara dan daerah destinasi wisata dan edukasi di media sosial secara berkala. (*)
Editor : Rosihan Anwar