Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Rabies dan Pencegahannya

Rosihan Anwar • Senin, 23 Juni 2025 | 13:00 WIB
Ilustrasi gigitan hewan penular rabies dan organ target yang akan diserang oleh virus rabies.
Ilustrasi gigitan hewan penular rabies dan organ target yang akan diserang oleh virus rabies.

Oleh: dr. I Komang Swardika

RABIES adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti karena hampir selalu berujung pada kematian. Namun, di balik keganasannya, rabies adalah penyakit yang sepenuhnya dapat dicegah.

Kunci utamanya ada pada kesadaran masyarakat dan tindakan cepat setelah terpapar.

Penting bagi kita untuk mengenal rabies bukan hanya sebagai penyakit, tapi juga sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang sebenarnya bisa dicegah dengan langkah sederhana.

Rabies adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus rabies, menyerang sistem saraf pusat manusia dan hewan berdarah panas.

Penularannya terjadi melalui air liur hewan yang terinfeksi, umumnya lewat gigitan, cakaran, atau jilatan pada luka terbuka. Virus ini menyebar dari lokasi gigitan menuju otak dan menimbulkan peradangan fatal.

Ketika gejala klinis muncul, hampir tidak ada pengobatan yang dapat menyelamatkan nyawa.

Pada manusia, gejala awal biasanya mirip seperti flu yaitu demam, sakit kepala, dan nyeri atau kesemutan di sekitar luka. Namun gejala kemudian berkembang menjadi kecemasan ekstrem, sulit menelan, takut air (hidrofobia), kejang, halusinasi, dan kelumpuhan.

Setelah fase ini, kondisi akan memburuk hingga koma dan meninggal dunia. Tingkat kematian rabies mencapai hampir 100 persen jika gejala sudah muncul. Karena itu, pencegahan adalah satu-satunya kunci keselamatan.

Rabies paling sering ditularkan oleh anjing (penyebab utama di Indonesia), kucing, kera, dan kelelawar.

Hewan pembawa virus rabies bisa menunjukkan perilaku abnormal seperti menjadi agresif, takut air, atau justru sangat jinak secara tidak biasa.

Namun, ada juga yang terlihat normal. Oleh karena itu, semua gigitan hewan harus dianggap sebagai risiko rabies.

Langkah pencegahan rabies meliputi vaksinasi hewan peliharaan, hindari kontak dengan hewan liar atau tak dikenal, cegah penyebaran dengan melaporkan apabila ada hewan yang menunjukkan gejala rabies dan jangan memindahkan hewan ke daerah lain tanpa izin dan pemeriksaan, dan penanganan segera pasca gigitan hewan penular rabies yaitu mencuci luka gigitan segera dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit, oleskan antiseptik seperti povidone iodine, dan segera ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) dan jika perlu serum anti rabies (SAR).

Dalam beberapa tahun terakhir, Provinsi Bali masih mencatat kasus rabies, sehingga masyarakat harus tetap waspada. Pemerintah telah melakukan vaksinasi massal pada anjing, namun keberhasilan program ini tergantung pada partisipasi masyarakat.

Memberikan vaksin pada hewan peliharaan bukan hanya melindungi hewan itu sendiri, tapi juga melindungi keluarga, tetangga, dan seluruh Masyarakat di sekitar. (*/penulis adalah dokter umum di RSUD. Gema Santi Nusa Penida)

 

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#rabies