RADAR BALI - Komedian, presenter, sekaligus penyanyi, Nina Carolina, yang lebih dikenal dengan nama Mpok Alpa, meninggal dunia pada Jumat (15/8/2025) sekitar pukul 08.31 WIB.
Mpok Alpa menghembuskan napas terakhirnya di usia 38 tahun di RS Kanker Dharmais akibat penyakit kanker payudara yang telah dideritanya selama tiga tahun terakhir.
Perjuangan Mpok Alpa melawan kanker menyoroti betapa kompleksnya penyakit ini. Sebuah penelitian terbaru yang mengejutkan mengungkap adanya faktor tak terduga yang dapat memicu kekambuhan kanker payudara: infeksi virus pernapasan seperti influenza dan COVID-19.
Virus Pernapasan "Membangunkan" Sel Kanker Tidur
Sejalan dengan perjuangan panjang para penyintas seperti Mpok Alpa, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi Nature menemukan bahwa infeksi virus pernapasan dapat "membangunkan" sel-sel kanker payudara yang tidak aktif (dorman) di paru-paru.
Para peneliti internasional menunjukkan bahwa sel-sel kanker yang telah menyebar (Disseminated Cancer Cells atau DCCs) dapat tetap "tertidur" selama bertahun-tahun sebelum aktif kembali dan menyebabkan metastasis.
Infeksi virus seperti flu, yang memengaruhi lebih dari satu miliar orang setiap tahun, menyebabkan peradangan paru-paru yang hebat. Peradangan inilah yang ternyata dapat membangunkan sel kanker yang dorman.
Dalam penelitian yang menggunakan model tikus, para ilmuwan mengamati hal berikut:
-
Tikus yang memiliki sel kanker payudara dorman di paru-parunya kemudian diinfeksi dengan virus influenza A (IAV).
-
Hasilnya sangat signifikan: dalam 3 hingga 15 hari setelah infeksi, jumlah sel kanker aktif di paru-paru meningkat hingga 1.000 kali lipat.
-
Peningkatan ini dipicu oleh respons peradangan tubuh terhadap virus, terutama oleh sitokin bernama interleukin 6 (IL-6).
-
Fenomena serupa juga ditemukan saat pengujian dilakukan dengan virus SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19). Infeksi COVID-19 juga terbukti mampu mengaktifkan sel-sel kanker payudara yang sebelumnya tidak aktif.
Risiko pada Manusia dan Ucapan Duka
Penelitian ini tidak berhenti pada hewan. Analisis data dari UK Biobank yang melibatkan 4.837 penyintas kanker menunjukkan bahwa mereka yang terdiagnosis positif SARS-CoV-2 memiliki rasio ganjil (odds ratio) 4,5 kali lebih tinggi untuk meninggal dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi.
Selain itu, data dari Flatiron Health Database di Amerika Serikat menunjukkan bahwa wanita penderita kanker payudara yang terkena COVID-19 memiliki rasio bahaya (hazard ratio) 1,44 untuk mengalami metastasis atau penyebaran kanker ke organ lain.
Temuan ini menggarisbawahi betapa pentingnya bagi para penyintas kanker untuk lebih waspada terhadap infeksi virus pernapasan, karena risiko kekambuhan bisa meningkat, terutama pada periode awal setelah infeksi. ***
Editor : Ibnu Yunianto